Aku, sampai saat ini, tetap tidak percaya bahwa bencana terjadi karena Tuhan ingin menghukum.
'karena pejabat2 Indonesia terlalu besar kesalahan2nya, Tuhan memperingatkan mereka'.
Tuhan yg kuyakini bukan tukang jagal, hingga menyengsarakan rakyat yg sudah sengsara.
Tuhan yg kuyakini tidak katarak, sehingga salah sasaran. Yg salah siapa, yg dihukum siapa.
'Tuhan menegur kita utk tidak berbuat dosa terus'.
Tuhan yg kuyakini bukan mahasiswa penganut SKS (Sistim kebut semalam). Ia menegurku tiap hari, dengan hal-hal kecil. Kadang aku aja yg bloon, gak merasa.
'Ini karena Indonesia telah jd negara neolib -blablabla-, mengikuti keturunan firaun -bla bla bla'.
Sudahlah. Itu tidak membantu. Korban lapar. Korban kedinginan. Korban trauma. Korban tak punya desa. Korban gila ditinggal mati keluarga. Korban butuh baju. Korban butuh softek. Korban butuh susu. Korban butuh dukunganku, mu.
Ini resiko hidup bersama. Manusia-bumi-semesta. Tuhan bs membiarkan bumi lbh luluh lantak seketika krn relasi manusia-bumi ancur. Toh dia ttp ngirim 'agen' utk mmperbaiki relasi itu, to?! Ada2 aja. Semua2 kok mengesankan Tuhan tu kejem banget. Gak mau usaha sih. Cari kambing hitam mlulu. Moga2 kotbah misa bsok gak gt jg. Bah.
Ahh. Dah ah!
*brasa tolol*
Skali lagi, Sudahlah. Itu tidak membantu. Korban lapar. Korban kedinginan. Korban trauma. Korban tak punya desa. Korban gila ditinggal mati keluarga. Korban butuh baju. Korban butuh softek. Korban butuh susu. Korban butuh dukunganku, mu.
aku ingin membawanya pada ibu. ingin menceritakan kehidupan kami sehari-hari. aku ingin bercerita pada ibu tentang pertengkaran kami. semua yang kami hadapi. aku ingin mendengar nasehat ibu untuk kami... untuk membina relasi kami. bagaimana membangun keluarga. aku ingin mendengar restu dan doa ibu untuk kami. aku ingin melihat ibu dan dia bercakap bersama, tertawa... aku ingin melihat ibu mengelus rambutnya, mendoakannya....
aku ingin ibu tahu, aku mencintai mereka berdua...
Berita lelayu dari Sosro Kulon, telah meninggal putri mbak Ita, yang bernama Ambar, yg lucu, pintar, dan yg selalu ceria saat mengikuti workshop di RDP...
9-Sept-2009
16:11:29
Doo a deer, a female deer...
Ray, a drop of morning sun...
Me, a name I call my self.
Far, a long long way to run...
bayangan anak-anak menyanyi dan menari langsung memenuhi otakku. Imas, Ambar, Robby... Risma.. Salsa..Akbar..
terbayang pertengkaran mereka yang selalu membuatku pusing di tiap pertemuan. terbayang bagaimana bingungnya aku ketika mereka ingin dangdutan.
ambar... ia ingin menyanyikan Cinta Terlarang-nya the Virgin diiringi keyboard. berkali-kali ia datang di latihan dangdut. tak menyerah meski disarankan untuk menyanyi yang lain.
ambar... di hari H ia mengejutkan semua orang dengan dandanannya yang seperti orang dewasa. ia didandani tetangganya. =)... badannya berkilap-kilap penuh glitter. kelopak matanya berwarna biru. bibirnya bergincu. sepatu bot terpasang di kakinya. aku tertawa. menertawakan orang yang berusaha membuatnya jadi seperti penyanyi dangdut dewasa. tertawa, karena usahanya gagal. ambar tetap manis dan imut, polos, layaknya anak-anak pada umumnya... =)
doo, a deer, a female deer...
ray, a drop of morning sun...
***
banyak orang berkata, kematian adalah anugerah. ia membebaskan seseorang dari beratnya hidup di dunia.
namun,
kabar duka tetap tak pernah terdengar indah di telingaku. selalu menyakitkan. selalu menyedihkan.
apalagi mendengar kabar duka tentang ambar.
aku merasa seperti kehilangan satu harapan baru.
aku bertanya-tanya, kenapa alam harus memanggil dia sekarang. kenapa ia harus pergi di usia sebelia ini. kenapa ia harus terserang penyakit jantung. kenapa ia harus operasi hari itu. kenapa ia tak kuat. kenapa ia tak diberi kesempatan merasakan indahnya dunia ini lebih lama lagi...
aku belum mendapat jawaban.
aku tak mendapat jawaban...
aku sedih.
ia tak ada. keceriaannya tak bisa kulihat lagi.
tapi lama-lama kusadari juga, semangatnya tetap ada. tak hilang. bahkan mempengaruhiku untuk menulis tentang dia.
akan kukenang semangatnya. kekerasan hatinya mendapatkan keinginannya. usahanya untuk mendamaikan teman-temannya yang bertengkar. keuletannya merangkai perhiasan dari manik-manik. kukenang ceritanya dan m impinya untuk membuat banyak perhiasan lucu dan menjualnya. aku mencintai mimpinya.
terima kasih sudah hadir dalam hidupku, sayang. terima kasih sudah membagi terangnya bintangmu dan mimpi-mimpi kecilmu padaku. terima kasih.. Kau mengingatkan aku tentang indahnya bermimpi...tentang indahnya bergelut untuk meraih mimpi itu.
selamat jalan..
aku tak tahu apa yang terjadi padamu sekarang. tapi kupikir, kamu pasti senang. bukankah kau bisa terbang meraih bintangmu sekarang? rangkailah jadi perhiasan yang indah! biar kulihat dari sini... biar menjadi semangatku, terutama saat aku gundah dan mulai putus asa. saat aku meragukan impianku...
= sebuah 'permainan' yang mengelompokkan orang berdasarkan faktor2 pembeda, seperti hobi, usia, suku, keyakinan, tingkat ekonomi, orientasi seksual...
suatu malam, ada teman protes padaku:
kenapa sih harus ada permainan seperti itu? kenapa kita harus membeda-bedakan diri? apalagi membedakan diri berdasarkan status ekonomi dan sosial!
lho, biar kita tau, kan?
buat apa?! kita kan sama saja! sama2 manusia! malah gak manusiawi kalo dibeda-bedakan gitu. malah ada kesan seperti mau mempermalukan gitu...
aku termenung.
***
tidak! tidak bisa! jangan tutupi perbedaan di antara kita! kita tidak boleh menutup mata pada perbedaan kita!
tidakkah mereka tahu, bahwa perbedaan bisa membawa dampak yang luar biasa?? perbedaan Kesempatan! perbedaan perlakuan orang!
tidakkah mereka ingin mencari tahu, bagaimana kawan2 --yang bahkan untuk membeli sepeda kayuh pun keluarganya tak mampu-- bisa merantau dan melanjutkan kuliah sampai di jogja? tidakkah mereka ingin tahu dan mengapresiasi bagaimana kawan2 itu bisa bertahan hidup?
apa mereka tidak ingin tau bagaimana rasanya jadi anak pejabat, bagaimana rasanya menyandang nama keluarga. bagaimana rasanya memiliki orang tua yang sibuk...
lebih jauh, apa mereka tidak melihat stigma-stigma dan penghakiman yang dijatuhkan oleh orang kebanyakan pada kelompok tertentu hanya karena kelompok itu berbeda dari kebanyakan orang? apa mereka tidak terhenyak ketika penganut ahmadiyah diserang? kelompok sapto dharmo diserang?
kenapa mereka tidak coba menengok sesaat pada kawan mereka yang berkata "waria tidak boleh ada di muka bumi! harus dihapuskan!"?
kenapa mereka tidak menengok pada kawan yang MEREKA ejek-ejek kerena ia adalah laki2 yang feminin?
ahhh.... aku masih mengelus dada.
bukan...bukan... damai bukanlah ketika kita semua menjadi sama.
damai adalah jika kita bisa hidup tenteram dalam keberagaman kita. tenteram yang sesungguhnya. yang lahir karena dialog. yang muncul karena relasi terus menerus, yang tumbuh seiring dengan usaha kita mengerti, memahami, dan menerima orang-orang yang berbeda dengan kita...
kurasa,
semua itu bisa kita mulai jika kita mau legawa (berbesar hati) untuk melihat perbedaan di antara kita dulu...
berbeda.. bukankah ia sangat manusiawi?
hah...
'buka mata, hati, telinga... sesungguhnya, masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta...'
malique n d'essestials
*protes itu muncul bulan lalu, dan sampai sekarang masih menghantuiku.
Ada teman yang sedang jatuh cinta... =) senang mendengarnya. Mengetahui bahwa ada yang menambal hatinya lagi, setelah tercabik sebelumnya.
ini bukan kisah cinta yang menyenangkan. bukan cinta monyet yang malu-malu atau berbunga-bunga. ini kisah yang,,,
damn! apa yang bisa dipakai menggambarkannya?
bagaimana rasanya mencintai orang yang tak teraih karena jilbab dan keyakinan keluarga?
Usai mandi, saya ngebut menuju agen bis. Masih dengan hati gundah. Mbak Etik dan Ryan sudah menunggu. Rasanya saya menangkap 'ketakutan' yang sama dari mata Ryan. Bisa jadi saya salah.
Dua jam perjalanan. Kami banyak bicara. Sekali waktu kami melirik Pleidooi. Berkas pembelaan.
*
Pengadilan Negeri Karanganyar ini lebih ramai dari sebelumnya. Ada beberapa teman LBT dari Solo. Ada wartawan. Lengkap dengan kamera-kamera mereka. Rupanya ada yang mengundang media secara sembarangan.
Dimas ada di balik jeruji itu. Tempat transit tahanan sebelum bersidang. Kegundahannya tampak jelas.
"Mas! Kalo mau motret potret aja!! Sini! Gak usah sembunyi-sembunyi!"
Ia marah pada wartawan.
"Kemarin aku muntah darah lagi, Mbak."
*
"Kamu punya flexi nggak?"
"Gak ada, Mas."
"Temen-temenmu ada yang punya gak?"
...
"Gak, Mas. Kamu mau telpon?"
Ryan meminjamkan ponselnya. Dimas makin gusar. Tampaknya yang telponnya tidak diterima. Ia menangis.
*
Saya menunggu. Tak ada keluarga yang datang. Tidak ada teman yang datang. Hanya kami. Orang yang sangat ia harapkan untuk datang pun tidak ada.
*
Tiba saatnya. Kami mengelilinginya. Memastikan wajahnya tak terekspos kamera.
Sidang hampir diskors karena Dimas menangis. Tapi ia tak mau ditunda lagi.
*
putusan dibacakan. Penipuan dan pencabulan anak. Pidana penjara empat tahun enam bulan dan denda 60 juta, yang jika tak dibayar bisa digantikan dengan enam bulan kurungan.
Dimas pingsan. Media mengerubuti.
*
Ruang tahanan. Masih pingsan. Saat sadar, ia minta ke kamar mandi. Saya menemani.
Pintu dibuka. Dimas keluar dengan mulut penuh darah.
Kembali ke ruang tahanan, dan ia muntah lagi. Darah. Banyak darah. Cair, bercampur lendir. Ia pindah, duduk di bangku, dan muntah lagi. Darah yang kental dan menggumpal-gumpal.
*
Dimas yang pucat meronta. Tak mau dibawa ke rumah sakit.
"Saya mau pulang saja! Jangan bawa saya ke rumah sakit!"
Rupanya LP telah menjadi rumah baginya.
*
Saya dan Ryan menemani di mobil tahanan. Lima menit kami diam. Dimas seperti tidur. Tiba-tiba tangannya menyentuh saya, mencari-cari. Saya pikir ia minta minum, ternyata bukan. Sambil 'tidur', ia menggenggam tangan saya. Jari-jari kami bertautan. Erat sekali. Sampai sakit rasanya. Tiba-tiba saya merasakan kesepiannya... saya merasakan ketakutannya pada sendiri.
Dua menit. Ia lepas tangan saya. Lalu duduk tegak, dan mengucap doa...
Bismillah ir-Rahman ir-Rahim....
***
"Dimas itu kasihan. Dia itu nggak punya siapa-siapa. Dimas itu menyalahkan dirinya sendiri terus-terusan. Bahkan di pengadilan pun dia mengaku bahwa dia ingin bunuh diri. Dimas itu butuh teman, butuh pendampingan. Untuk menguatkan dia itu lho! Untuk memberi tahu dia bahwa apa yang dia rasakan itu tidak salah, bahwa kita memang punya hak atas seksualitas kita!"
"Aku itu sampai heran lo, kenapa kok justru teman2 LBT ini sepertinya kurang simpati pada Dimas. Padahal harusnya justru kalianlah yang lebih tahu perasaan Dimas, dibandingkan kami yang hetero ini."
***
Hingga saat ini, saya merasa tidak tenang.
Saya bangun dengan mimpi buruk. Saya ditangkap, dihajar, dijebloskan ke penjara. Saya dihajar oleh kepolisian dan kejaksaan. Pasangan saya dipaksa melihat saya dihajar hingga muntah darah, hingga ia mau memberi kesaksian palsu sesuai keinginan mereka. Media memberitakan saya dengan keterangan yang tidak benar dan menyudutkan. Semua orang menghujat saya...
Malam saya dihantui pengalaman Dimas. Saya seolah mengalami apa yang dia alami.
***
Teman-teman, Dimas tidak seperti kita yang punya banyak akses dan berpendidikan tinggi, bisa kuliah. Dimas tidak tahu wacana seksualitas. Dia tidak tahu menahu tentang gerakan LGBT. Bahkan, bukan tidak mungkin dia tidak tahu bahwa dalam ilmu psikologi, homoseksual itu bukan penyakit. Bahwa yang merupakan penyakit itu justru rasa malu, minder, ketakutan berlebihan atas orientasi seksualnya itu. Dimas hanya tahu bahwa dirinya sendiri menyukai perempuan, dan apa yang ia rasakan adalah 'dosa' di mata masyarakat. Sesuatu yang laknat. Dimas tidak tahu, bahwa hukum kita bisa jadi sangat kejam pada kaum homoseksual. Ia buta hukum.
***
Semoga, kita yang tahu dan paham wacana ini tidak berhenti pada wacana. Semoga kita mampu mengaplikasikan apa yang kita punya. Semoga kita tidak lupa pada teman-teman LGBT lain yang membutuhkan penguatan kita. Semoga di tengah kesibukan kita, komunitas kita, atau lembaga kita, kita masih sempat menengok mereka. Semoga dari uang yang kita dapat, ada yang bisa disisihkan untuk mendukung mereka, entah apapun bentuknya.
Semoga, dengan semua akses yang kita punya, kita bisa terus menyebarkan informasi pada teman-teman kita. Semoga, suatu saat nanti, tidak ada lagi yang kesepian dan merasa ditinggalkan seperti Dimas. Semoga kita mampu menjadi keluarga, terutama bagi mereka yang ditinggalkan oleh sanak saudaranya.
Semoga segala pengalaman yang kita punya bisa mengasah empati kita.
Semoga, perjuangan HAM kita tidak melayang di atas angin.
Lalu, lalu, hari ini saya ngakak campur jengkel juga. Gara2nya, saya & temen2 nih hobi banget njawab 'terserah'.
Ceritanya, tadi kami kan jalan2 nih. Kangen2an.. (yang gak kangen diem aja, gak usah komentar!). Tujuanna 3 tmpat: Ganjuran, liat sunset d pantai, trus ke rumah nenek Bije maem tongseng. Wakakaa...
Pas berangkat, Bije nanya, mau ke mana dulu? Jawabannya terserah-terserah-terserah-terserah. Jadilah Bije yg memilih rutenya.
Trus pas perjalanan motor saya (maksudna motor mb Opi yg saya pinjem) bocor bannya. Nah, sambil nunggu ban diganti, kami rumpi2. Bije nanya lagi, mau ke mana dulu. Jawabannya? Teuteup.. Terserah. Lha lucunya, waktu Bije & saya ngungkapin pendapat, yg laen protes. Halah! Lha tadi bilangna terserah...
Ban beres, kami jalan lagi. Eee... Rantai motor Ezra copot! Alhasil kami nangkring lg d bengkel. Huahahahahahahahaaa.... Berhubung kami brangkat siang menjelang sore, padahal kami ngejar sunset, smentara kami dah 2x berhenti gara2 motor, Bije nanya lagi deh. Mau ke mana dulu sekarang? Eee... Lha kok jawabanna tetep. Terserah. Glodhak!! Hahahahahaa...
Sbenernya saya jg bilang terserah lo tadi... ^^
Knapa sih kita suka bilang terserah? Klo saya sih (tadi) uda males aja ngasih pndapat. Lha saya sungkan to kalo smua ikut pndapat saya mlulu. Serba salah sakjane! Nggak ngutarain pendapat, ntar gak brangkat2. Klo ngungkapin, ntar ada yg protes. Halah!
[klo di tmpt2 laen, bukan teman2 saya ini, kita bs dikambinghitamkan gr2 jwbn terserah lo].
Knapa sih? Knapa sih? Knapa sih? Knapa harus terserah? Hehehe...