twitter
    Celebrating the T in LGBT
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Oktober 2012

Flashback Journey of Singhasari Kingdom (1)

September 2010 on Idul Fitri holiday, my family and I did a simple flashback vacation.

It was the idea of my father to go to the traces of Singosari Kingdom. Singosari (or Singhasari) itself was a glorious kingdom in East Java in 13th century. The center of the kingdom was in the area which is now known as Kabupaten Malang.

My father thought that this journey is important for us -his daughters- since he named us "Prajna", inspired by the ancestor's name of Singhasari: Prajna Paramita or Ken Dedes.

Senin, 17 Januari 2011

I think (?) I love My Sisters

Hari ini adek2 saya bolos sekolah. Katanya, sih, kecapekan setelah kemarin ikut saya mengirim masker ke sekitar Bromo.



Maka kami pun bersenang-senang di rumah, bertiga saja, sambil mengerjakan pekerjaan rumah.

Hari sudah siang. Saya dan Si Bungsu duduk-duduk di kamar, sementara Si Tengah menjemur sepatu di atap.


"Gubbrrraaaaaakkkk!!!!!!!!!!"

Saya terlunjak dari kasur dan lari ke lantai bawah. Setengah menangis saya panggil-panggil mana Si Tengah. "Yudithhhhh......Yudiithh!!!!!"

Saya tahu betul itu suara atap jebol. Saya tahu betul itu adik saya yang jatuh dari sana. Tidak ada sahutan darinya, dan bayangan buruk tentang adik saya yang terbaring-terbujur diam di lantai meracuni otak saya.

Sampai di lantai bawah, tidak ada dia di sana.

Saya berlari sekencang mungkin ke kamar semula dan meloncat ke jendela.

Di sana saya lihat dia,

adik saya,

berusaha bangun. Badannya di dalam loteng, kepalanya melongok keluar. Antara meringis kesakitan dan tertawa, ia menatap saya dan Si Bungsu.

Kami pun tertawa terbahak-bahak sekuat-kuatnya. Air mata saya keluar. Entah, itu air mata tawa, senang, lega, sedih, kaget, atau apa.

Si Bungsu menjulurkan sebotol air padanya. Lalu giliran saya mengulur tangan, mengangkat dia dari lubang besar itu.

Duduk di kusen jendela, kami tertawa lagi. Sambil membahas bagaimana reaksi bapak dan ibu nanti melihat lubang besar di atap dan eternit itu, menyusun strategi untuk memberi tahu orang tua tentang kejadian ini supaya tidak dimarahi.

Dan tertawa lagi.


Menatap kedua adik saya siang tadi,

ingatan saya tentang kejadian sebelumnya berputar lagi. Teriakan saya, bayangan di otak saya, ketakutan saya, kekhawatiran pada Si Tengah, rasa bersalah saya, getaran pada suara saya, kecepatan gerak dan lari saya, jauhnya lompatan saya, gerak refleks saya...

Ini, tah, cinta?



Dasar adik-adik bodooooohhhhhh.......


Dudul..

Aku gak mau hidup tanpa kalian.


Stay with me, please..


NB:
Si Tengak gak jatuh ke lantai bawah karena bokongnya nyangkut di eternit. Tepat di bawahnya ada daun pintu (tepat di sudutnya) dan lemari. Jika tak tertahan eternit, entah apa yg akan terjadi padanya.
Terima kasih, Tuhan, Semesta, eternit, rangka atap, dan semua2 yang menahan adikQ biar gak jatuh ke bawah...

::che::

Jumat, 15 Agustus 2008

Be Strong, Che!



Kemarin lusa, orang tuaku merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kedua puluh.

Bapakku membuat CD berisi kumpulan lagu indah. Sepertinya, bapak memilih lagu2 yang menggambarkan perjalanan pernikahan mereka... *Aku memang tidak tahu alasan pasti pemilihan lagunya. Maklum, sedang tidak berkomunikasi dengan beliau. Hehe…* CD itu lalu ia bagikan kepada saudara dan beberapa teman dekat.



Aku tertarik dengan lagu2 pilihan bapakku itu.

Ada lagu 'Kemesraan’ (aku lupa itu lagunya siapa). Tahu liriknya kan?!

Kemesraan ini… janganlah cepat berlalu…

Kemesraan ini… ingin kukenang selalu…

Hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu…



Ada juga lagunya Doel Sumbang, ‘Arti Kehidupan’. Hmm… aku suka sekali lagu ini…


Jangan berkata tidak bila kau jatuh cinta.

Terus terang sajalah, buat apa berdusta…

Cinta itu anugrah, maka berbahagialah… sebab kita sengasara bila tak punya cinta.

Rintangan pasti dating menghadang, cobaan pasti dating menghujam.

Namun yakinlah bahwa cinta itu kan membuatmu mengerti akan arti kehidupan.

Marilah sayang, mari sirami,

Cinta yang tumbuh di dalam diri…

Marilah sayang, mari sirami,

Agar merekah di dalam hati.



‘Rumah Kita’ dan ‘Endless Love’ juga dipilih bapakku untuk masuk dalam CD-nya.



Mendengarkan CD ini, hatiku seperti teriris-iris… hehehe…



Yahh.. sejak menikah, bapak dan ibuku memang kurang akur (bahasa halus dari tidak akur). Tiap hari, kalo nggak diam-diaman, mereka akan perang mulut. Sejak aku lahir hingga aku SMP, bapakku bahkan suka main tangan pada aku dan ibu… beberapa bulan belakangan, saat aku sudah meninggalkan rumah utnuk kuliah di jogja, sikap itu muncul lagi… bapak beberapa kali mengamuk, mengancam, memukul, dan melempari ibuku dengan barang2 di rumah (termasuk jemuran handuk!!). Mengerikan. Parahnya lagi, bapak melakukan itu di hadapan adikku yang masih kelas 2 SD.





Lagu yang dimasukkan bapak dalam CD kenangan ini membuatku heran. Yahh… lagu2 itu terdengar tidak cocok dengan kondisi pernikahannya (menurutku). Hahahahaa….



Aku selalu bertanya-tanya… Benarkah seseorang mencintai pasangannya saat ia selalu membuat pasangannya terluka?

Apakah Cinta itu memang ada saat ia selalu melampiaskan kemarahannya pada pasangannya, dan bahkan anak-anaknya?



Kadang aku memang tak percaya, apakah bapakku memiliki cinta pada ibu dan pada kami, anak-anaknya…

Bagaimana aku harus percaya?? Ia selalu bersikap dingin dan keras pada kami.. padahal bersama kawan2nya, bapak bisa tertawa-tawa senang…bisa menjadi sosok yang sabar…selalu mengalah…

Orang berpendapat, bapak adalah orang yang bersahabat. Namun mengapa ia tak begitu pada kami, istri dan anak2nya sendiri?

Bukankah itu sangat menyakitkan??



Ibuku selalu menentang pikiranku ini… Ibu bilang, jika bapak tak mencintai kami, tak mungkin ia menghidupi kami, menyekolahkan kami…

Bapak begitu karena masa kecilnya yang keras.. Masa lalu itu mambuatnya jadi keras.



Aku tetap tak percaya. Sebab ia hanya melakukannya pada kami…





Saat mendengar lagu dalam CD ini, lalu melihat judul di cover-nya (kenangan 20 tahun pernikahan Lilik & Ukik), dalam hatiku yang terasa perih ini aku langsung berkata “BullShiT!”. Hahahaa…





Setidaknya, aku harus bersyukur atas beberapa hal. Pertama, aku masih hidup. Banyak anak sangat kecil yang mati dihajar bapaknya. Tapi aku masih hidup.

Kedua, aku tumbuh sehat. Badanku kuat, otakku baik-baik saja. Aku pintar. Tidak pernah mengalami gegar otak meski kepala ini selalu jadi sasaran pukulan.

Ketiga, ibuku juga masih hidup. Meski agak sakit2an (beberapa penyakitnya disebabkan oleh pukulan bapak), dia masih hidup, tegar, dan selalu memberi semangat pada kami anak-anaknya. Terberkatilah engkau ibu, meski entah mengapa, kau masih tahan hidup dengan bapak dan membelanya.

Keempat. Adik-adikku juga masih hidup. Segar bugar. Meski mereka juga mengalami dan melihat kekerasan yang dilakukan bapak, setidaknya mereka punya kakak baik yang bisa diajak curhat dan siap melindungi mereka, membawa mereka pergi dari rumah saat situasi memanas, dsb. Hahahahaaa...

Kelima, bapakku masih hidup. Setidaknya, aku dan adik-adikku masih disekolahkan dan diberi makan.

Setelah ini, aku terbang meninggalkan rumah dan hidup mandiri. Adik2 jadi dapet ‘jatah’ku. Hehe… senang sekali mereka. Tapi aku tak kuatir. Aku juga senang.



Sesuatu yang pedih tak perlu dijadikan alasan untuk gagal, bukan??

Jika bapak dan ibuku tidak berhasil membuat kisah hidup mereka seindah lagu dalam CD kenangan itu,

Aku akan berhasil!

Akan kubangun hidupku selanjutnya bersama orang-orang tercinta… adik-adikku, dan pasanganku... perempuan yang kucintai. :)



*wahahahahahaaa

ini tulisan saya tahun lalu. saya posting lagi. ^^

btw, sekarang hubungan ortu saya membaik lagi. kapan2 akan saya tulis prosesnya, karena sangat menarik.
my though mommy



::che::