twitter
    Celebrating the T in LGBT

Jumat, 03 Mei 2013

Kenyang Lezat di Sendowo

Sup buah, lotek, gado-gado, dan bakso belakang bank mandiri. Mahasiswa UGM mana yg tidak mengenal salah satu tempat makan favorit ini? Tapi itu dulu...waktu UGM masih pro rakyat kecil dan tidak menggusur pedagang kaki lima dengan seenak jidat tanpa memberi solusi baik terkait kepindahan lokasi, ganti rugi, dsb.

Kembali ke topik semula. Warung itu pun raib. Sebagai pelanggan setia saya patah hati. Sempat mendengar kabar lokasi warung yang baru, tapi tiap dicari kok tidak ketemu. 2011, saya iseng bersama Mumu naik motor keliling daerah Pendowo. Tanpa tujuan, pengen aja lihat-lihat perkampungwn, keluar masuk gang. Dan entah bagaimana ceritanya, saya melihat ibu dan bapak pemilik warung raib itu. Hahahahaaaa...

Well, saat itu kondisi warungnya lumayan mengenaskan. Hanya berupa bilik kecil berdinding anyaman bambu di ketiga sisinya. Gedheg (anyaman bambu)-nya pun sudah jelek rupanya. Tapiiiiii....rasa masakan mereka tetep enaaaakkkkk.... Bahkan makin enak!! Hakhakhakk...

Ceritanya, Bapak pemilik warung ini dulu juru masak di beberapa restoran di Jakarta. Terus mulai tahun 1977 kalo nggak salah, dia memutuskan untuk kembali ke jogja bersama istrinya dan membuka warung sendiri. Yang mereka jual adalah bakso, gado2, lotek, dan sup buah. Semuanya buatan mereka sendiri, bahkan hingga pangsit, bakso goreng, dan pentol baksonya. Kalau kamu datang sendiri ke sini, kamu pasti bisa dengan mudah merasakan segarnya bakso buatan mereka. Sungguh berbeda dengan warung bakso kebanyakan yang baksonya sudah disimpan berhari2 dan kebanyakan borax. Bakso Pak Jumadi, nama pemilik warung ini, hampir tidak kenyal sama sekali. Tapi di setiap gigitan kamu pasti bisa merasakan daging gilingnya. Nyammmmm....

Begitu juga lotek dan gado2nya. Aaaaawwwwwww..... Enaaakkkkk.... It's quite difficult for me to explain. Harus nyobain sendiri!

Ternyata, sepanjang 2008-2010, setelah kasus penggusuran itu, mereka selalu berpindah tempat. Baru kali ini mereka bisa menetap. Awalnya sepi, tapi kini sudah ramai pengunjung lagi. :)) well, bagaimana pun, lidah memang nggak bisa bohong, ya!

Nanti kalau sudah online lewat PC, saya kasih denah menuju warung ini deh :))

Minggu, 28 April 2013

Quote of the Day




-ema

Catatan COmate

Dua hari yang lalu, saya bantu Julian, Divisi Media Promosi #CJR2013malang bikin kuis. Ini adalah kuis kesekian yang saya buat dalam dua minggu ini.

Waktu lagi spaneng mikirin #CJR2013batam, tiba2 ide yang tadi lagi nyangkut di bonsai beringin tetangga datang lagi. Bikin kuis nulis.

Selasa, 23 April 2013

Dyke, Not Jerk

Dua minggu yg padat dan melelahkan, sekaligus penuh pembelajaran. :)) Fiuhhh, tarik nafas dulu.

Yap, ceritanya saya sedang bekerja untuk promotor di kota jogja tersayang. Masculine world. Saya sadar itu sejak awal. Maklum, bukan kali pertama ini saya bekerja untuk mereka. Bagaimana pun juga, realita biasanya melenceng dari bayangan. Dunia ini, ternyata, jauh lebih maskulin dr bayangan.

Sebenarnya menyenangkan sekali memiliki rekan2 kerja dan bos2 yang tidak lesbiphobic (sepertinya masih gay dan wariaphobic sih). Saya mesti mensyukurinya. Tak ada kendala berarti dalam bersosialisasi, khususnya menyangkut orientasi seksual saya ini.

Tapi, seperti juga komunitas sosial saya lainnya, kumpulan rekan saya yang satu ini melihat saya sebagai laki-laki, bukan perempuan. Lebih spesifik lagi, mereka menganggap bahwa saya adalah lelaki yang sama dengan mereka: isi kepala penuh dengan seks, melihat perempuan hanya dari tubuhnya, dan kalau membicarakan perempuan pasti topiknya seks-seks-dan seks.

Maka terlibatlah saya dalam pembicaraan mereka. Tentang tubuh rekan kerja perempuan, tentang mbak2 SPG yang "bisa dipakai", bagaimana caranya "memakai" perempuan, ciri2 perempuan yg bisa "dipakai", dan tentang kebanggaan atas banyaknya pengalaman "memakai" perempuan.

Arrrggghhh... Gemes rasanya. Iya, saya lesbian. Mungkin juga saya transgender. Tapi saya respek sama perempuan. Saya gak suka kalau laki2 menganggap perempuan adalah barang yg bisa dipakai dan diperlakukan seenaknya. Saya tuh muak kalau kalau ada laki2 (juga perempuan) yg menganggap kalau perempuan itu tak lebih dari barang pemuas nafsu seksual belaka. Saya sangat tersinggung kalau teman2 lelaki saya ini membuat jokes jayus yg melecehkan perempuan. Dan saya lebih bingung lagi kalau mereka menganggap saya adalah bagian dari laki-laki semacam itu.

Hey!! I'm a dyke, not a jerk! ヽ(゚Д゚)ノ

Rabu, 17 April 2013

Maksud Ibu?

Kemarin pagi Mumu nemuin dosen pembimbing tesisnya. Si Ibu Dosen ini orangnya seru banget, dan single. Beliau kemudian menawari Mumu utk jadi dosen di salah satu kampus beken di Jakarta. Kebetulan kampus itu mempercayai kampus Mumu utk mengirim satu lulusan terbaiknya mengajar di sana, dengan kontrak awal satu tahun.

Singkat cerita, pulang dari kamous Mumu menceritakan percakapan mereka~~
Ibuitu: gimana Mbak Mumu? Saran saya sih kesempatan ini diambil saja ~~blablablablabla~~
Mumu: Saya pikir2 dulu ya, Bu, karena saya cukup khawatir untuk tinggal di Jakarta.
Ibuitu: Oh, begitu ya..
*hening*
Ibuitu: Apa tidak bisa mengajak Mbak Ema ikut ke sana? Cuma untuk satu tahun saja, kok..
          (me: what?? Kenapa si ibu mendadak mention namaku??)
*hening*
Ibuitu: Memang, Mbak Mumu, orang-orang single seperti kita ini selalu membutuhkan teman. Makanya saya sarankan Mbak Ema diajak saja kalau pindah ~~blablabla~~|
          (me: orang2 single seperti kita selalu butuh temaaann??? Maksudnya elo lesbi, juga, Bu??)

Demikianlah. Kesimpulan saya tidak lain dan tidak bukan adalah si ibu tau bahwa kami ini pasangan, dan bahwa dia juga lesbiii... Haaahahaha

Lesbi-enggaknya gak penting sih. Tapi nanyanya itu looo... Wagu. Gyahahaha

Kamis, 28 Maret 2013

Competition Sucks

I don't really like the idea of competition.

Homo homini lupus. Human are naturally born killer. And in my opinion, competition triggers that character to come up and dominate us.

I believe that people don't need to put down other people to be a winner or being the best. Or we don't even need any effort to be it. Basically, everyone might the best in certain fields.

But the idea of competition closes people's eyes on their own talents and good things. Competition stimulates people to focus only in certain factors which are competed.

Then people start to underestimate others due to their inability in winning those games. Even worse, people tend to put others down aiming to be a winner. Discrimination, exclusion, oppression, domination, manipulation...

And the silliest thing is that the winners declare themselves as the most civilized, educated, intelligent, -blablabla- people while standing up on others' suffering.

Jumat, 22 Maret 2013

Pria2 Pecundang.

Jam 1.30 malam. Seperti biasa saya begadang. Jogja panas. Jendela kamar berukuran satu kali satu meter dan menghadap ke jalan itu saya biarkan terbuka.

Segerombolan lelaki bermotor melintas pelan di depan kos sambil tertawa-tawa. Selang empat-lima detik, saya dengar motor2 itu putar balik. "Suit suit!" mereka bersiul saat melintasi kamar. Saya tarik nafas. Motor kembali berputar.
    "Keluar dong!"
    "Temani kita mbak!"
    "Psst, pssst!"
Mereka bersahutan berisik, lagi-lagi di depan kamar. Suara motor mereka sudah hampir lenyap ketika saya sadar mereka berputar kembali. Tangan saya mengepal. Sungguh saya ingin meraih rice cooker di hadapan untuk saya lempar pada mereka. Namun saya putuskan untuk diam.
     "Ah, ah, ah."
     "Masukin, masukin."
Desahan2 aneh dan tawa cabul mereka bersahut-sahutan dengan suara knalpot modifikasi murahan. Tepat di depan kamar.

Kembali saya tarik nafas. Diam.

Enam jam sebelumnya, hal serupa terjadi. Panggilan2 tak hormat dan terdengar melecehkan ditujukan segerombolan lelaki pada penghuni kamar berjendela terbuka ini.

Geram, prihatin, kasihan, sekaligus ingin menusukkan pisau pada mereka. Perasaan saya belum berubah, sejak pertama mendengar pelecehan2 verbal sejenis tahun 2011. Di kamar ini. Hampir setiap malam, asal jendela saya terbuka lebar.

Malam ini saya merenung.
Jika benar seks yang mereka butuhkan, ada banyak pekerja seks yang menawarkan jasa. Bukan, bukan itu.

Ini soal intimidasi dan kuasa.

Saya tahu betul siapa mereka. Gerombolan pria yang hobi nongkrong di warung burjo tetangga, yang bahkan tak berani menatap mata saya tiap kami bertemu malam hari, pukul sebelas, dua belas, atau jam satu-dua-tiga malam. Yang hanya berani curi-curi pandang keheranan melihat perempuan tomboi keluar sendirian di malam hari dan memesan indomi. Yang mengkerut tiap saya tatap balik mata mereka dengan tajam, tanpa sungkan.

Ya, ini soal intimidasi saja. Ketakutan mereka atas hilangnya kekuasaan dan harga diri, karena tak berani menggoda secara terbuka, karena mereka kalah dalam tatap mata, karena saya yang perempuan ini memiliki keberanian keluar di malam hari dan tak menunjukkan rasa takut sedikit pun pada pecundang seperti mereka.

Dengan mengintimidasi, mereka berharap saya takut. Mereka berharap saya marah dan menunjukkan rasa insecure saya. Ketakutan dan kemarahan saya adalah kemenangan bagi pecundang2 sampah seperti mereka.

Saya berjanji mereka tidak akan mendapatkannya.

Saya tak sabar menunggu esok, di mana mereka kembali datang, menatap jendela saya, dan mendapati saya menatap mereka tajam. Seperti yang selalu saya lakukan di burjo.

I'm not scared at you, loser. You're just a group of assholes looking for power,  demanding women to kiss your feet.

I'm going to show you what a woman can do.

Moron.