twitter
    Celebrating the T in LGBT

Kamis, 28 April 2011

Atas Nama Persahabatan

Masih rindu kehadiranmu, tubuh maupun jiwa.
Bukan karena prestise atau rutinitas belaka, melainkan mimpi dan janji bersama,
yang pernah kita gelar di meja.
Kalau memang memilih jalan berbeda, katakan.
Karena dalam bisumu aku menunggu,
atas nama persahabatan.
Kau bisa membunuhku demi sakit menunggu,
atas nama persahabatan.


28april2011,
o1.32

*Kita sama-sama bersayap. Aku tak ingin sayapku membusuk dalam janjimu,
sementara kau telah sibuk mencari madu,
atas nama persahabatan.



::che::

Senin, 25 April 2011

FAKE!!


baiklah! saya mengaku!! sejak lulus SMA, saya hampir tak pernah lagi membaca. apapun! kecuali komik detektif konan, shanaou yoshitsune, hai miiko, dan kungfu boy. selebihnya? mati. dua tahun saya berlangganan koran, yang rutin saya baca. kemudian? menguap begitu saya. genap satu tahun saya tak lagi membaca koran. buku? haha. lemari buku saya yang penuh itu hanya tipuan. setengahnya buku lama, setengah lagi onggokan buku baru yang bahkan daftar isinya saja tak saya tengok.


saya tenggelam dalam masa lalu; terus-terusan mengingat dan mengidentifikasi diri sendiri sebagai kutu buku. oh my...! itu sungguh masa lalu! penghargaan sebagai siswa paling rajin membaca dan meminjam buku itu benar2 masa lalu! ema yang banyak tahu ini itu karena buku pun masa lalu! dan saya masih hidup dalam kenangan itu. haloooo!!! what the hell are you thinking about, ema???


sejujurnya saya sadar tentang hal itu. otak saya tahu betul bahwa modal berpikir saya hanya televisi, film, facebook, google dan segala informasinya, sedikit catatan teman, dan sedikit diskusi di sana sini. tapi saya menyangkalnya!!!



tadi malam, saya menyadari bahwa saya tak bisa lari lagi. dua-tiga kalimat sederhana dari dosen membuat saya tak berkutik. "saran saya, konteks dan perspektif hukumnya kelihatannya kurang kamu elaborasi. model dan cara penelitianmu apakah menggunakan deduksi atau induksi?sebaiknya kamu tekankan aplikasinya. secara umum, substansinya oke dan kontekstual."


JEDHEERRR!!!!
konteks dan perspektif hukum? seperti apa itu? bagaimana mengelaborasinya? deduksi? induksi? apa itu? seperti apa bentuknya? apa yang harus saya lakukan sekarang?


kepala saya berpikir keras, berusaha memahami tulisan itu. kesulitan sekali, saya mendiskusikannya dengan seorang teman.
"nurul, penelitian deduktif dan induktif itu apa? bagaimana bentuknya? saya tidak paham sama sekali..."
Nurul menjelaskan, dan otak saya masih saja kesulitan.
sampai akhirnya nurul berkata,


"sepertinya kamu kurang membaca, ema."


di situ pertahanan saya runtuh. segala kepalsuan yang saya bangun untuk diri saya sendiri, terbongkar sudah. saya seperti menatap cermin yang memantulkan diri saya seutuhnya, sesuatu yang selama ini saya hindari mati-matian.


apa lagi yang mau saya katakan? apa lagi yang mau saya palsukan? apa lagi yang mau saya hindari? semua sudah nyata. memahami dua kalimat sederhana saja saya tak bisa...




saya malu, sangat malu. pada diri saya sendiri....





T________T'


::che::

Senin, 18 April 2011

After “The Devil Wears Prada”






Finally after five years the movie was released I watch it for the first time. And oh yeah, it impresses me. 

First, this movie reminds me on ‘the right to choose’ and its implications.

Well, just like Andy (Andrea), I often say that we have no option or we don’t have any chance to choose and decide. I act like people are guilty for everything that comes to my life, especially for the bad things. But hey! I’m not a little girl anymore. Big girl decides for herself. I have the right to choose! Shit happens to everyone, but there’s still a chance in every single problems. When I don’t have the courage to choose and take the risk, then it’s not about other person but me.


Second, this “Devil Wears Prada” leads me to a personal question: what do you want in life?

Right after the movie ended, I thought this movie tried to show me two life-choices. First, live glamorously, fashionably and sensationally as a famous-modern person then you’ll ruin your relationship with your friends, partner, family, etc. OR, live as simple person, unfashionably, and little bit traditional then you will have a perfect life and love surrounds you.

The next 30 minutes, I changed my mind. No! That’s not what the movie wants to tell me! Yes, Andrea was never really happy when she worked in Runaway. Then she be happier after decided to quit. But Miranda, Emily, James, Christian –those glamour, rich, and fashionable persons in Runaway circle—, I cannot say that their life are not happy! Both Andrea and these rich guys know what they want in their life. That’s the key. Well, no one can live their life respectfully without knowing the aims of their life, can’t they?


Hahahahaa…. Hey Devil with Prada! You’re the real angel here!

::che::

After "The Devil Wears Prada"

Finally after five years the movie was released I watch it for the first time. And oh yeah, it impresses me. 

First, this movie reminds me on ‘the right to choose’ and its implications.

Well, just like Andy (Andrea), I often say that we have no option or we don’t have any chance to choose and decide. I act like people are guilty for everything that comes to my life, especially for the bad things. But hey! I’m not a little girl anymore. Big girl decides for herself. I have the right to choose! Shit happens to everyone, but there’s still a chance in every single problems. When I don’t have the courage to choose and take the risk, then it’s not about other person but me.


Second, this “Devil Wears Prada” leads me to a personal question: what do you want in life?

Right after the movie ended, I thought this movie tried to show me two life-choices. First, live glamorously, fashionably and sensationally as a famous-modern person then you’ll ruin your relationship with your friends, partner, family, etc. OR, live as simple person, unfashionably, and little bit traditional then you will have a perfect life and love surrounds you.

The next 30 minutes, I changed my mind. No! That’s not what the movie wants to tell me! Yes, Andrea was never really happy when she worked in Runaway. Then she be happier after decided to quit. But Miranda, Emily, James, Christian –those glamour, rich, and fashionable persons in Runaway circle—, I cannot say that their life are not happy! Both Andrea and these rich guys know what they want in their life. That’s the key. Well, no one can live their life respectfully without knowing the aims of their life, can’t they?


Hahahahaa…. Hey Devil with Prada! You’re the real angel here!

::che::

Minggu, 10 April 2011

i celebrate your every choices. easy to say, difficult to do


i celebrate your every choices.


easy to say, difficult to do




::che::

Harapan

ada yang berhenti pada berharap dan menyandarkan harapannya pada orang lain.
ada yang maju dan terus bergerak untuk mewujudkan harapannya.

menjadi seperti apa itu pilihan.
apapun itu, jangan menyesal atau menyalahkan.

semangat. semangaaatttt!!!!!!!!!


::che::

Kamis, 24 Maret 2011

Manusia itu Wabah, bukan?




23 Maret 2011

Tadi malam aku menangkap tikus got yang masuk ke kos-kosan. Tidak ada niat untuk membunuhnya. Hanya ingin menangkap dan mengeluarkannya dari kos.
Setelah semalaman kukurung di keranjang sampah dan kuberi makan, tadi pagi kumasukkan ia ke dalam kresek. Hendak kubuang ia di tempat pembuangan sampah besar dekat kampus. 
Namun aku melakukan kebodohan. ikatan kresek terlalu kencang, dan si tikus kutinggalkan di dalamnya begitu lama. Satu jam kemudian, di TPS, kubuka kresek itu dengan harapan si tikus segera bebas dariku. nyatanya, ia sudah mati lemas. sepertinya kehabisan oksigen.



Sedih sekali rasasnya. Ada rasa bersalah yang besar...

Bagaimanapun juga, tikus itu hanya mencari makan. pasti mereka tak bermaksud mengganggu atau menyebarkan penyakit. Hanya mencari makan... 


***

Kadang aku bingung, mengapa manusia (termasuk aku) merasa begitu jijik dengan hewan-hewan seperti kecoa, nyamuk, lalat, lipan, dan tikus. Hewan-hewan itu diperlakukan layaknya monster jahat yang harus dibunuh. Mereka dianggap mengganggu. Padahal kalau dipikir-pikir, apa sih salah mereka? Jika nyamuk menggigit kita, ya memang begitu siklus alamnya. Mereka tidak cuma makan darah kita, kok, tapi juga darah hewan2 lain seperti sapi dan anjing. Lalu, jika kecoa, semut, atau lipan berkeliaran di rumah kita, itu pun bukan salah mereka. Rumah-rumah kita ini berdiri di atas tanah yang dahulunya merupakan tempat tinggal mereka. Kita itu cuma menumpang di lahan mereka... Maka konsepnya harusnya ya hidup bersama. Kalau sesekali mereka muncul, ya wajar. Tak semestinya kita membunuh mereka yang sudah memberikan rumahnya bagi kita.
Bagaimana dengan tikus yang mengobrak-abrik rumah dan makanan kita?
fiuhh...
Kita, manusia, sudah terlalu banyak mengambil tempat hidup mereka. Selain mereka jadi "tak punya rumah", mereka jadi kehilangan lahan pangan pula. Kalau kita mau sadari, coba lihat, berapa banyak sih lahan kosong yang tersedia di sekitar rumah kita? apakah luas areanya sebanding dengan jumlah hewan yang terusir dari tanah yang kita tumpangi? Apakah di lahan-lahan kosong itu tersedia tanaman atau biota-biota yang cukup untuk membentuk rantai makanan?



Mungkin wabah dan penyakit yang sesungguhnya bukan hewan-hewan itu, melainkan diri kita sendiri (manusia). Mungkin selama ini kita adalah wabah bagi semesta... bagi tanah. bagi air. bagi hewan-hewan. bagi tetumbuhan. bagi udara....
Mungkin kita ini tak beda dengan para kapitalis dan kolonialis yang kita ejek-ejek itu. Kita berkuasa, kita berdaya, kita menjajah, melakukan segala sesuatu untuk kepentingan (semu) kita, kesenangan kita.


 ***

Maafkan aku, tikus...


::che::