twitter
    Celebrating the T in LGBT

Senin, 15 Agustus 2011

Hari-Hari di Pancake’s Company [1]: Puasa dan Piring-Piring Berisi


Hari ini adalah puasa keempat belas di bulan Ramadhan, dan hari keempat puluh empat saya di Pancake’s Company. Seperti biasa, hari-hari di sini selalu menyenangkan. Omset agak menurun, dan kami jadi sedikit berleha-leha di jam kerja, tapi tetap ceria. Haha :D

Satu lagi yang tak berubah di bulan Ramadhan ini: tumpukan piring berisi sisa makanan. Yap, sekitar sepertiga dari piring-piring yang kembali ke dapur masih berisi pancake, waffle, spaghetti, atau makanan lainnya. Kadang juga berisi tumpukan keju yang telah disisihkan, atau buah-buahan sisa dari pancake fruity ice cream.
Fiuuuhhh…

Bulan ini bulan puasa. Setahu saya, puasa itu latihan menahan diri dari berbagai nafsu. Nafu makan, nafsu minum, nafsu marah, nafsu ini-itu-ini-itu. Puasa adalah latihan berempati pada orang lain, terutama kaum miskin dan papa. Orang yang berpuasa, dalam hal ini Muslim, mau tidak mau jadi lapar dan haus karena tidak makan dan minum selama sekitar 13,5 jam. Mereka dilatih untuk tahu bagaimana rasanya tidak bisa makan, seperti yang dirasakan orang fakir.

Namun sepertinya puasa berakhir sebagai ritual tahunan biasa yang kehilangan makna. Setidaknya itulah kesimpulan yang saya ambil dari piring-piring berisi sisa makanan itu. Puasa, ternyata tak membuat yang berpuasa lebih menghargai apa yang bisa ia makan. Puasa, ternyata tak sanggup mengingatkan mereka pada pengemis, pemulung, pak becak, orang gila, juga pengamen yang berseliweran di depan Pancake’s Company atau di perempatan-perempatan yang mereka lalui. Puasa, ternyata tak membuat mereka sadar bahwa saat ini krisis makanan besar terjadi di dunia dan membuat orang-orang di Somalia, Kenya, Namibia mati kelaparan.

Dan saya pun membuang sisa spaghetti ke plastik sampah.

Srek, srek, srek…


::che::

Sabtu, 30 Juli 2011

make up, please!


"Aku benci make uuuuuppppp.."

SMS itu baru saja dikirim sahabat baik saya, tepat beberapa jam sebelum wisuda sarjana-nya.

Lalu saya tidak bisa berhenti tertawa.
[maaf, sayang, aku tak bermaksud bersenang-senang di atas penderitaanmu :p]

lucu, sih!

beberapa hari dianggap sangat spesial bagi orang indonesia, dan dirayakan besar-besaran. salah satunya wisuda.
dan, justru di hari yang penting itu, orang -terutama perempuan!- seperti dituntut untuk tidak menjadi dirinya sendiri. menggunakan make up yang tebal, sekalipun si empunya hari-H tak menyukainya.
untuk difoto dan dikenang, katanya
hahahahaa...



aku jadi ingat di buku tahunan (year book) jaman SMA, yang dikenal juga sebagai buku kenangan.
beberapa teman berfoto dengan make up cukup tebal, alis dicukur, rambut diulik, dan sebagainya,
dan percayalah,
empat tahun setelah kelulusan,
saya sulit mengenali foto-foto itu.



hahahahaaaa....


for Meer:
sabar, ya, cintaaa... :D

::che::

Kamis, 28 Juli 2011

[ ]


akhir-akhir ini saya merasa rindu.

pada langit merah di kaki mahameru.
pada tusukan-tusukan rumput di bawah cemara angin.
pada pasir tempat kaki menjejak menahan angin.

pada tawa-tawa lepas di atas motor smash biru.
pada teriakan norak anak-anak kecil berseragam coklat.

pada kamu, kamu, kamu, dan kamu.

pada hasrat untuk tertawa, bercerita.

kerinduan mencari dan menemukan.





::che::

[no title]




Apakah kau percaya pada hantu?


Aku tidak tahu. Tapi kadang aku merasa, ada kehidupan lain di sisiku. Entah apa namanya. Mungkin hantu. Mungkin jiwa-jiwa tanpa raga. Mungkin, angin yang sedang menyapa.

::che::

Rabu, 27 Juli 2011

Childhood


*a song by Michael Jackson*

If you really want to know about me, there is a song I wrote,
which is the most honest song I've ever written.
It's the most autobiographical song I've ever written. They should listen to it. That's the one they really should listen to.
It's called Childhood.
[Michael Jackson]


Have you seen my childhood?
I'm searching for that I come from.
'Cause I've been looking around in the lost and found of my heart.

No one understands me.
They view it as such strange eccentricities,
'cause I love such elementary things.
It's been my fate to compensate,
for the childhood I've never known.

Have you seen my childhood?
I'm searching for that wonder in my youth
like pirates in adventurous dreams of conquest and kings on the throne.


Before you judge me,
try hard to love me.
Look within your heart then ask,
Have you seen my childhood?


People say I'm strange that way,
'cause I love such elementary things.
It's been my fate to compensate,
for the childhood I've never known...


Have you seen my childhood?
I'm searching for that wonder in my youth.
Like fantastical stories to share,
The dreams I would dare,
Watch me fly...


Before you judge me,
try hard to love me.
The painful youth I've had.

Have you seen my childhood?


::che::

Selasa, 21 Juni 2011

Oh tuhan, apakah kau sekejam itu?


Satu sore, teman kos mebakar setumpuk kertas di halaman kos.
              "wuahhh, panasnya! mulai sekarang harus berbuat baik terus, nih. Bakar kertas aja panasnya kayak gini, apalagi neraka. ampun dahhh..."

***
saya mendapat gambaran bahwa neraka itu panas dan kejam pertama kali dari buku komik stensilan kecil seharga seratus rupiah. saya kelas dua SD waktu itu. buku itu banyak dijual para pedagang mainan depan SD (hampir semua SD, kayaknya!).
ada gambar orang berteriak-teriak kesakitan dan dicambuki dalam api neraka. ada gambar orang yang lidahnya dipotong karena banyak berbohong. ada yang tangannya disetrika karena suka mencuri. perempuan2 yang dikuliti kepalanya, laki-laki yang dipotong penisnya, dan lain-lain, dan lain-lain. sungguh mengerikan. bahkan saya masih menggigil ketika mengingat gambar-gambar itu.


sekarang saya berpikir, neraka benar seperti itu? kalau memang benar, betapa kejamnya tuhan!
bagaimana tidak? hukuman itu abadi. sekali masuk neraka, kita akan mendapat siksaan itu selama-lamanya. emangnya yang kita lakukan sebanding dengan 'hukuman' itu???

buset dah..

tapi saya yakin,
kalau neraka memang seperti itu,
martin luther, bunda teresa, gandhi, dan segepok pejuang kemanusiaan lainnya pasti sudah melakukan aksi protes besar-besaran di alam baka sana. hahahaaa




::che::

Rabu, 08 Juni 2011

Urip Iki Mung Mampir Ngombe

Berita duka datang minggu lalu. Salah satu rekan saya, sesama Action Partner OIYP (dari Papua Nugini) meninggal, karena HIV/AIDS.

Usianya baru 24 tahun.
Sungguh masih muda.

Di PNG (Papua New Guinea), ia bergabung dgn sebuah komunitas yang menyediakan rumah tinggal dan konseling bagi para ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), terutama yg ditinggalkan keluarganya.
Ia sendiri positif HIV/AIDS, dan melalui komunitasnya ia berbagi rasa, pengalaman, dan dukungan dengan ODHA lainnya.


Sungguh sangat muda, ia. Dan sangat berharga hidupnya.

Beruntunglah,
ia tak menunggu lulus kuliah -apalagi bekerja dan lalu kaya- untuk melakukan sesuatu yg jadi panggilan nuraninya. :)


Gesa,
Gesa.
Terima kasih.
Kamu menyadarkanku.
Hidup (ternyata) memang terlalu singkat. Untuk menunda, apalagi untuk lari dan mengingkari nurani.

Kita sungguh tak tahu apa yang akan terjadi besok, besok, dan besok...


RIP:
Gesa Yanoda

::che::