twitter
    Celebrating the T in LGBT

Senin, 04 Januari 2010

Tuhan Bikin Film


15 November 2009 jam 16:55



Wow! Kayaknya semua orang lagi ngotot pengen nonton 2012 nih! Hehee... Saya sih blom nonton. nunggu DVDnya ajah.

Katanya sih film ini soal kiamat tahun 2012 yang -katanya juga- diramalkan suku Maya itu. Hohohoo...


Trus hari ini ada teman saya yang nulis tentang kiamat juga. Tapi agak beda dengan tulisan lain yang mbahas benar-tidaknya ramalan itu, ini semacam renungan kitab suci gitu. Menariknya, ada yang komentar "Aq tak percaya 2012...itu manusia yang buat..bukan TUHAN.. wkwkwkwk"


Sebenernya saya gak tahu, yang dia maksud dengan 2012 itu film ato ramalannya. ^^ menurut saya sih dia gak percaya film yang didasarkan pada ramalan itu. Yang jelas komentarnya bikin saya senyum2 trus nulis catatan ini. Hohohohoo...

Ceritanya, saya ini orang yang percaya pada yang kuasa lain yang melebihi manusia, melebihi apapun. Bukan sembarang kuasa, tapi kuasa baik yang terus hidup selama manusia masih memiliki harapan dan kehendak baik. Saya menyebut kuasa itu Tuhan. Saya percaya pada Tuhan. =)



Menurut saya lagi, Tuhan akan menemani dan mendorong manusia melakukan kebaikan. Dengan banyak cara dong! Yang sudah jelas adalah melalui manusia itu sendiri. Simpelnya, Tuhan berkarya melalui manusia. gitu lah! [Hehehe... mbulet ya? ^^]

Nah, balik ke film. Film kan media yang efektif untuk mempengaruhi orang. Jadi, bukan tidak mungkin Si Tuhan melihat celah itu dan ingin membuat film juga. ya lewat manusia dong... serem juga klo tiba-tiba ada film tapi 'gak ada yang buat'. wakakakakakakakkk....

Kenapa saya bisa ngomong gitu? karena saya telah menonton buaaaanyaak film yang menginspirasi hidup saya, memberi semangat untuk melakukan hal-hal berguna. They are soooooo inspiring!! Contoh aja ya, Freedom Writers. Film itu memberi saya semangat untuk menulis. Menulis itu penting loh! selain untuk ekspresi diri (saya percaya orang bisa mati kalo gak mengekspresikan diri), saya juga bisa berbagi banyak hal dengan orang lain! Film itu juga menyemangati saya untuk berani mengenal orang, atau kelompok, yang tidak saya sukai. Saya tergerak untuk tidak menghakimi orang lain, apalagi sebelum mengenalnya. Believe me, it works on me!! Saya juga jadi makin yakin, mendengar dan bercerita adalah paduan yang indah! Kadang saya merasa tidak beruntung, merasa diri tidak disayang, masalah saya berat, bla-bla-bla. Namun, saat mendengar orang lain, saya sadar...saya bukan satu-satunya yang bersedih dan terluka. Efek positifnya, saya tergerak untuk saling menguatkan dengan sesama...

Itu baru satu film! Freedom Writes!



ambil contoh kedua. kali ini tentang kebiasaan merokok. saya benar-benar berniat dan berusaha untuk berhenti merokok karena -antara lain- dua film: Wall-E dan Sex and The City. Mengapa Wall-E? Karena saya ini WTS, Wanita Tak tahan Sumuk, yang tidak ingin bumi makin panas -apalagi sepanas film Wall E- karena rokok saya. Lalu mengapa sex and the city? Karena di season 6 ada cerita tentang mr.Big yang operasi jantung, dan saya melihat betapa khawatir dan tersiksanya Carrie, pasangan mr.Big, saat menunggu hasil operasi itu... Yeah, saya tahu saya melow. Saya menangis di adegan itu. Saya tak bisa membayangkan betapa sedihnya orang-orang yang mencintai saya dan saya cintai jika saya kena penyakit, apalagi MATI, gara2 rokok. Ogah!!!! Maka, jadilah saya berusaha mati-matian berhenti merokok. Hahahahahahaaa....



Begitulah... Film-film itu telah mendorong saya menuju arah yang lebih baik, setidaknya menurut saya. Maka saya percaya, di sana Tuhan bekerja. Ia menegur, mengingatkan, mengajak. Tuhan ikut membuat film-film itu. Ya lewat Manusia lah... Hehehehee...



"Trus apa hubungannya dengan komentar orang itu, Ma?"



Hubungannya ya...lucu aja klo ada yang bilang (film) itu manusia yang buat, bukan Tuhan. Karena seperti kujelaskan tadi, dalam tiap hal yang mengingatkan dan mendorong manusia pada kebaikan dan harapan, Tuhan bekerja.



sekian dan terima kasih.

hehehehehehee




NB: soal film 2012, menurut Kompas hari ini film itu emang rada gak logis. Eniwei, sepertinya kita tetap bisa melihat hal lain. Bahwa alam bereaksi pada tiap tindakan kita. Ini sok tau aja sih. Lha wong saya belom nonton... hwakakakakakakakk



::che::

Sabtu, 02 Januari 2010

Kereta Api




13 November 2009 jam 10:16

Saya lagi di kereta. =) senangnya! Dah lama saya gak naik kereta. Mmm... Terakhir bulan Mei agaknya. Lupa. Kereta eksekutif. Dibayari, pula! Hakhakhak...

Kali ini saya naik Sri Tanjung, kereta ekonomi jogja-surabaya-banyuwangi. Wow! Ini adalah kereta ekonomi terbaik yg pernah saya naiki! Sepi, bersih, WCna bagus!! Ada aerna, pula! Woohooo... ^^ bueda bgt dgn Progo-Gaya Baru-Matarmaja-dll. Biasanya saya ndelosor di lorong kereta, atau umpel-umpelan di depan WC yg pesing banget. Kalaupun dapat kursi, saya capek angkat kaki. Karena org rela berbaring di kolng kursi demi mndapat tempat! Biasanya lagi, saya terpaksa ngempet pipis atau beol krn WCnya gak layak blas! Beda bgt dgn hari ini. Saya bisa beol di kereta dgn lega! Hahahahahaaa..... =D plung-plung-plung!

yang tidak berbeda antara Sri Tanjung dan kereta2 bla-bla-bla itu adalah: 1) murah! Bayangkan, jogja-surabaya cuma 19.500 + dana PMI 500. MurahE.... ^^
2) pedagangnya di mana2!! Hahaha... Dugaan saya, jangan2 jumlah pedagang di kereta ini lebih banyak dr penumpangnya. Wkwkwkwk...

Eniwei, selalu ada pengalaman menarik di setiap kereta.. =)

di kereta yg sesak, saya menyaksikan penerapan hukum rimba. Yang kuat yang menang. Berebut kursi, berebut koran, berebut ruang utk duduk. Kadang perebutan itu penuh kemarahan.. Yah, demi mencari kerja, atau demi bertemu keluarga. Menjelang Idul Fitri, kondisi jd makin parah. Kereta jd seperti obor yg hampir mati. Saya melihat banyak wajah lelah di sana. Wajah pasrah pd nasib. Tapi saya percaya, 'pulang kampung' adalah bukti bahwa harapan masih ada. Berkumpul bersama keluarga akan memberi eneri baru, kan? Maka obor itu masih menyala..

Di kereta ekonomi yg sepi & bersih macam ini, saya belajar hal lain. Saya melihat pedagang2 yang riang dan selalu bersyukur karena dagangannya laku. Mereka ramah, dan tak segan berbagi syukur dgn saya. Lewat sapaan, senyuman, obrolan2 ringan.. =) mata mereka seolah berkata, hidup memang sulit, tapi tak ada alasan untuk menyerah, mbak..

=) hahaha..
Menyenangkan. Menyenangkan.. Kereta api bukan lagi benda mati bagi saya. Ia adalah sahabat baik bagi tiap orang yang menggeluti hidup di dalamnya. Kereta api menemani, mengantar, dan mendukung. =)
maka, Semangat hidup di dalamnya pun tak pernah mati.

=)
kereta api..

Biar saya nikmati lagi perjalanan ini. Saya tak sabar lagi menunggu kisah berikutnya!

Sri Tanjung,
10.10

::che::

Apa Kamu Peace Generation?


10 Oktober 2009 jam 11:29 

Suatu malam, setelah berhari-hari tidak pulang ke kos karena sibuk beraktivitas, saya melongo. Tiba-tiba salah satu teman kos pamit. Ia hendak pulang ke kampung halamannya. Ternyata ia telah diwisuda empat hari sebelumnya, dan saya tidak tahu!


Kejadian itu menampar saya. Saya, yang merasa diri cukup memahami permasalahan hukum dan hak asasi manusia dan bercita-cita menjadi pembela rakyat kecil, ternyata tidak tahu keadaan rumah tinggal saya sendiri. Saya, yang suka ikut aksi di sana-sini, membahas isu ini-itu, dan membuat kegiatan begini-begitu, bahkan saat itu sedang koar-koar tentang perdamaian (di Peace Generation) dan penghargaan pada perempuan pekerja seks (di Red District Project), nyatanya tidak menghadiri wisuda teman satu rumah dan tidak turut bergembira bersamanya karena hal tolol: tidak tahu.

Ironis.

Saya malu.

***

Lain waktu, saya melongo lagi, gara-gara celetukan abang tukang sate langganan saya.

“Makasih ya Mbak, mau ngajak saya ngobrol. Biasanya anak kos cuma beli, nggak pernah ngajak ngomong. Kesannya tukang sate tuh hina banget…”

Plaaak! Saya tertampar lagi.

Ternyata banyak juga teman-teman mahasiswa yang acuh, kalau tak boleh disebut angkuh, pada sekitarnya. Jual mahal. Sibuk belajar dan berkegiatan hingga lupa menoleh dan menyapa. Sibuk SMS-an atau fesbukan hingga lupa menatap mata orang di depannya, berkata “apa kabar”, atau tersenyum dan berterima kasih. Bahkan pada orang yang telah menyiapkan makanan bagi mereka. Parahnya, status saya dan mereka sama, mahasiswa.

Kata orang, mahasiswa itu agen perubahan. Yang diharapkan bisa mengaplikasikan ilmunya untuk kesejahteraan masyarakat. Yang akan membawa bangsa dan negara menuju arah yang lebih baik. Karena itu, seharusnya mahasiswa mengenal sekitarnya. Mahasiswa mestinya tahu siapa orang-orang yang ada di sekeliling mereka, bagaimana keadaannya, dan mahasiswa mesti tahu apa yang bisa ia lakukan bagi orang-orang itu. Tapi, kalau mahasiswanya seperti saya semua, preett!!! Yang ada nanti malah bangsa yang acuh, angkuh, dan kebanyakan omong.


Saya ini ‘anggota komunitas Peace Generation’. Komunitas yang tak henti-henti berusaha menyebar dan menanamkan nilai-nilai perdamaian di jiwa anak muda, dimulai dengan menumbuhkan kepedulian dan mengolah kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar. Lalu saya berpikir lagi, apa iya saya masih layak menyandang titel “anggota Peace Generation” ketika ternyata saya acuh pada sekitar saya? Bahkan pada orang-orang terdekat! Masih pantaskah saya menyatakan status itu dengan bangga jika saya angkuh dan narsis, mengikuti banyak kegiatan hanya untuk nama besar saya, supaya ada yang bisa dipamerkan dan disombongkan?

Sesungguhnya, Peace Generation bukan hanya sebuah nama. Bukan juga sekedar event organizer. Peace Generation adalah sebuah semangat. Spirit. Roh. Semangat yang muncul karena kegelisahan terhadap kekerasan, terhadap perang, terhadap ketimpangan dan ketidakmanusiawian. Semangat itu ada karena keyakinan bahwa tiap manusia diciptakan berharga dan unik, hingga tak ada yang boleh diperlakukan buruk. Semangat itu dihembuskan karena percaya bahwa kebaikan akan selalu tumbuh, tidak bisa mati. Peace Generation adalah semangat untuk peduli, bukan acuh. Semangat untuk terus berbuat baik, dengan tulus, pada semua, tanpa membeda-bedakan. Semangat untuk memastikan bahwa setiap orang diperlakukan sebagai manusia. Hanya orang yang memiliki semangat itulah yang layak disebut Peace Generation sesungguhnya.

Pada titik ini, jujur saya akui bahwa saya sangat tidak nyaman dengan kondisi saya saat ini yang begitu acuh dan angkuh. Saya ingin menyapa tetangga saya. Saya ingin menimbun sedikit demi sedikit lubang antara saya dan orang-orang di sekitar saya. Saya tidak ingin ilmu dan pengetahuan saya mati sebagai omong kosong. Saya amat merindukan semangat-semangat itu. Saya ingin menjadi Peace Generation yang sesungguhnya.

Lalu, Apakah kamu Peace Generation?


*We’ve been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet a new neighbor. (Paradox of Our Time, Jeff Dickson)

::che::

Aku tetap tidak percaya.

09 Oktober 2009 jam 2:24

Aku, sampai saat ini, tetap tidak percaya bahwa bencana terjadi karena Tuhan ingin menghukum.


'karena pejabat2 Indonesia terlalu besar kesalahan2nya, Tuhan memperingatkan mereka'.
Tuhan yg kuyakini bukan tukang jagal, hingga menyengsarakan rakyat yg sudah sengsara.
Tuhan yg kuyakini tidak katarak, sehingga salah sasaran. Yg salah siapa, yg dihukum siapa.

'Tuhan menegur kita utk tidak berbuat dosa terus'.
Tuhan yg kuyakini bukan mahasiswa penganut SKS (Sistim kebut semalam). Ia menegurku tiap hari, dengan hal-hal kecil. Kadang aku aja yg bloon, gak merasa.



'Ini karena Indonesia telah jd negara neolib -blablabla-, mengikuti keturunan firaun -bla bla bla'.

Sudahlah. Itu tidak membantu. Korban lapar. Korban kedinginan. Korban trauma. Korban tak punya desa. Korban gila ditinggal mati keluarga. Korban butuh baju. Korban butuh softek. Korban butuh susu. Korban butuh dukunganku, mu.

Ini resiko hidup bersama. Manusia-bumi-semesta. Tuhan bs membiarkan bumi lbh luluh lantak seketika krn relasi manusia-bumi ancur. Toh dia ttp ngirim 'agen' utk mmperbaiki relasi itu, to?! Ada2 aja. Semua2 kok mengesankan Tuhan tu kejem banget. Gak mau usaha sih. Cari kambing hitam mlulu. Moga2 kotbah misa bsok gak gt jg. Bah.

Ahh. Dah ah!
*brasa tolol*

Skali lagi, Sudahlah. Itu tidak membantu. Korban lapar. Korban kedinginan. Korban trauma. Korban tak punya desa. Korban gila ditinggal mati keluarga. Korban butuh baju. Korban butuh softek. Korban butuh susu. Korban butuh dukunganku, mu.

Ayo.

::che::

...

aku ingin membawanya pada ibu. ingin menceritakan kehidupan kami sehari-hari. aku ingin bercerita pada ibu tentang pertengkaran kami. semua yang kami hadapi. aku ingin mendengar nasehat ibu untuk kami... untuk membina relasi kami. bagaimana membangun keluarga. aku ingin mendengar restu dan doa ibu untuk kami. aku ingin melihat ibu dan dia bercakap bersama, tertawa... aku ingin melihat ibu mengelus rambutnya, mendoakannya....

aku ingin ibu tahu, aku mencintai mereka berdua...


awal September 2009
::che::

selamat malam, Ambar...


25 September 2009 jam 15:38

Berita lelayu dari Sosro Kulon, telah meninggal putri mbak Ita, yang bernama Ambar, yg lucu, pintar, dan yg selalu ceria saat mengikuti workshop di RDP...


9-Sept-2009
16:11:29


Doo a deer, a female deer...
Ray, a drop of morning sun...
Me, a name I call my self.
Far, a long long way to run...


bayangan anak-anak menyanyi dan menari langsung memenuhi otakku. Imas, Ambar, Robby... Risma.. Salsa..Akbar..
terbayang pertengkaran mereka yang selalu membuatku pusing di tiap pertemuan. terbayang bagaimana bingungnya aku ketika mereka ingin dangdutan.

ambar... ia ingin menyanyikan Cinta Terlarang-nya the Virgin diiringi keyboard. berkali-kali ia datang di latihan dangdut. tak menyerah meski disarankan untuk menyanyi yang lain.

ambar... di hari H ia mengejutkan semua orang dengan dandanannya yang seperti orang dewasa. ia didandani tetangganya. =)... badannya berkilap-kilap penuh glitter. kelopak matanya berwarna biru. bibirnya bergincu. sepatu bot terpasang di kakinya. aku tertawa. menertawakan orang yang berusaha membuatnya jadi seperti penyanyi dangdut dewasa. tertawa, karena usahanya gagal. ambar tetap manis dan imut, polos, layaknya anak-anak pada umumnya... =)


doo, a deer, a female deer...
ray, a drop of morning sun...


***

banyak orang berkata, kematian adalah anugerah. ia membebaskan seseorang dari beratnya hidup di dunia.
namun,
kabar duka tetap tak pernah terdengar indah di telingaku. selalu menyakitkan. selalu menyedihkan.

apalagi mendengar kabar duka tentang ambar.


aku merasa seperti kehilangan satu harapan baru.

aku bertanya-tanya, kenapa alam harus memanggil dia sekarang. kenapa ia harus pergi di usia sebelia ini. kenapa ia harus terserang penyakit jantung. kenapa ia harus operasi hari itu. kenapa ia tak kuat. kenapa ia tak diberi kesempatan merasakan indahnya dunia ini lebih lama lagi...


aku belum mendapat jawaban.
aku tak mendapat jawaban...



aku sedih.

ia tak ada. keceriaannya tak bisa kulihat lagi.

tapi lama-lama kusadari juga, semangatnya tetap ada. tak hilang. bahkan mempengaruhiku untuk menulis tentang dia.

akan kukenang semangatnya. kekerasan hatinya mendapatkan keinginannya. usahanya untuk mendamaikan teman-temannya yang bertengkar. keuletannya merangkai perhiasan dari manik-manik. kukenang ceritanya dan m impinya untuk membuat banyak perhiasan lucu dan menjualnya. aku mencintai mimpinya.


terima kasih sudah hadir dalam hidupku, sayang. terima kasih sudah membagi terangnya bintangmu dan mimpi-mimpi kecilmu padaku. terima kasih.. Kau mengingatkan aku tentang indahnya bermimpi...tentang indahnya bergelut untuk meraih mimpi itu.

selamat jalan..


aku tak tahu apa yang terjadi padamu sekarang. tapi kupikir, kamu pasti senang. bukankah kau bisa terbang meraih bintangmu sekarang? rangkailah jadi perhiasan yang indah! biar kulihat dari sini... biar menjadi semangatku, terutama saat aku gundah dan mulai putus asa. saat aku meragukan impianku...

selamat malam, Ambar sayang...

::che::

Viva la Difference.


20 Juni 2009 jam 19:46

Viva La Difference

= sebuah 'permainan' yang mengelompokkan orang berdasarkan faktor2 pembeda, seperti hobi, usia, suku, keyakinan, tingkat ekonomi, orientasi seksual...


suatu malam, ada teman protes padaku:
kenapa sih harus ada permainan seperti itu? kenapa kita harus membeda-bedakan diri? apalagi membedakan diri berdasarkan status ekonomi dan sosial!

lho, biar kita tau, kan?

buat apa?! kita kan sama saja! sama2 manusia! malah gak manusiawi kalo dibeda-bedakan gitu. malah ada kesan seperti mau mempermalukan gitu...

aku termenung.

***
tidak! tidak bisa! jangan tutupi perbedaan di antara kita! kita tidak boleh menutup mata pada perbedaan kita!
tidakkah mereka tahu, bahwa perbedaan bisa membawa dampak yang luar biasa?? perbedaan Kesempatan! perbedaan perlakuan orang!

tidakkah mereka ingin mencari tahu, bagaimana kawan2 --yang bahkan untuk membeli sepeda kayuh pun keluarganya tak mampu-- bisa merantau dan melanjutkan kuliah sampai di jogja? tidakkah mereka ingin tahu dan mengapresiasi bagaimana kawan2 itu bisa bertahan hidup?

apa mereka tidak ingin tau bagaimana rasanya jadi anak pejabat, bagaimana rasanya menyandang nama keluarga. bagaimana rasanya memiliki orang tua yang sibuk...

lebih jauh, apa mereka tidak melihat stigma-stigma dan penghakiman yang dijatuhkan oleh orang kebanyakan pada kelompok tertentu hanya karena kelompok itu berbeda dari kebanyakan orang? apa mereka tidak terhenyak ketika penganut ahmadiyah diserang? kelompok sapto dharmo diserang?

kenapa mereka tidak coba menengok sesaat pada kawan mereka yang berkata "waria tidak boleh ada di muka bumi! harus dihapuskan!"?
kenapa mereka tidak menengok pada kawan yang MEREKA ejek-ejek kerena ia adalah laki2 yang feminin?


ahhh.... aku masih mengelus dada.

bukan...bukan... damai bukanlah ketika kita semua menjadi sama.
damai adalah jika kita bisa hidup tenteram dalam keberagaman kita. tenteram yang sesungguhnya. yang lahir karena dialog. yang muncul karena relasi terus menerus, yang tumbuh seiring dengan usaha kita mengerti, memahami, dan menerima orang-orang yang berbeda dengan kita...

kurasa,
semua itu bisa kita mulai jika kita mau legawa (berbesar hati) untuk melihat perbedaan di antara kita dulu...
berbeda.. bukankah ia sangat manusiawi?
hah...

'buka mata, hati, telinga... sesungguhnya, masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta...'
malique n d'essestials


*protes itu muncul bulan lalu, dan sampai sekarang masih menghantuiku.

::che::