twitter
    Celebrating the T in LGBT

Minggu, 22 Desember 2013

Englishman in New York [4]

Maskulin itu beda sama patriarkal. Kamu maskukin, belum tentu kamu patriarkal. Kecuali kalo kamu menggunakan maskulinitasmu untuk merepresi, mensubordinasi orang lain. Itu patriarki. Orang feminin pun patriarkal kalo dia menyerang orang lain.

-Teh Inna

Minggu, 01 Desember 2013

Redefinisi Perempuan Kuat

Kemarin, social media ramai dengan pembicaraan tentang SS, penyair yg dikabarkan memaksa remaja perempuan berhubungan seks, korbannya hamil, dan konon SS tidak mau bertanggung jawab.

Hari ini topik pembicaraan berubah. Timeline berisi puja puji pada istri dan anak SS yg katanya begitu tabah dan kuat menghadapi cobaan. Lebih spesifik lagi, orang2 sibuk memuji sikap istri dana anak SS yg siap mendukung dan berjanji untuk terus berada di samping suami/ayah mereka.

Ada apa ini sebenarnya?

Saya langsung ingat ibu saya. Orang2 di sekitar keluarga saya juga menjuluki ibu sebagai "perempuan kuat", karena ibu menyanggupkan diri untuk tetap hidup bersama bapak meski bapak jelas2 melakukan kekerasan fisik dan psikis terus menerus pada kami sekeluarga. Ibu saya bukan hanya memutuskan tidak berpisah. Ibu tidak menggugat perlakuan bapak. Ibu bahkan sudah sampai pada level membenarkan, atau mencari pembenaran, atas setiap kekerasan yang bapak lakukan.

Label kuat layak diberikan pada perempuan yang bersikap demikian?

Saya tidak mau setuju.

Ibu adalah korban pertama di pernikahan ini. Kemudian saya. Dulu saya melihat ibu sebagai sosok yang kuat karena masih mampu hidup meski disiksa. Hingga kemudian ia tak (bisa) lagi membela diri. Hingga lalu ia tak mampu lagi membela saya. Hingga kemudian ia membiarkan bapak melakukan kekerasan itu lagi dan lagi. Hingga lahir adik perempuan saya, yang menjadi korban bapak berikutnya. Hingga korban bertambah lagi satu saat si bungsu lahir. Hingga anak yang mengalami trauma berat dan berkecenderungan menjadi impulsif-agresif berjumlah tiga. Hingga ibu menolak segala opini saya tentang bapak dan relasi mereka. Hingga saya sadar ibu lebih memilih untuk menyelamatkan muka di depan orang daripada menyelamatkan anaknya...

Begitukah perempuan kuat itu?

Yang menjebakkan dirinya dalam lingkaran kekerasan? Yang mengaku mencintai suaminya namun kehilangan cinta pada dirinya sendiri? Yang membesarkan anaknya dengan cucur air mata untuk kemudian membiarkan anaknya tersiksa? Yang melahirkan korban2 kekerasan berkutnya? Yang mengajarkan pada anak2nya bahwa adalah kodrat perempuan untuk diinjak2, bahwa lembaga pernikahan itu tetap sakral sekalipun penuh kekerasan, bahwa citra baik di depan masyarakat harus dibayar dengan trauma panjang dan kecenderungan kami jadi pelaku kekerasan berikutnya?

Saya paham, ibu saya dan ibu-ibu lain sepertinya adalah korban. Tapi mereka pun terlanjur mapan dalam posisinya. Saya pun menangkap kesan bahwa mereka memanipulasi status mereka untuk berbagai hal. Dalam kasus ibu saya: simpati dari tuhan dan anaknya, misalnya ibu selalu minta kami menuruti semua keinginannya demi dia yg sudah bertahan dalam siksaan bapak. Dalam kasus lain, misalnya istri SS, mungkin simpati dari orang2 agar tidak kena dampak masalah lebih jauh, katakanlah orang simpati dan salah fokus, solidaritas pd korban berkurang, dan orang lebih banyak bicara soal kebaikan si SS daripada kelakuannya yg sedang terekspos.
Jika diamati lebih dalam, mereka justru belajar dr kekerasan yg mereka alami dan digunakan untuk melakukan kekerasan pada orang lain!

Jadi,
Masih layak disebut perempuan kuat?

Bagi saya sih kuat adalah jika ibu mengajarkan pada kami bahwa martabat manusia tidak seharusnya direndahkan dan diinjak atas nama cinta abal2 dalam lembaga pernikahan; bahwa masyarakat yang selalu kejam bukanlah alasan untuk membiarkan kekerasan merantai kami; dan bahwa kami punya masa depan yang jauh lebih baik tanpa trauma berkepanjangan, tanpa menjadi korban maupun pelaku kekerasan berikutnya.

PS:
I love you, Mom. But love is never blind.