twitter
    Celebrating the T in LGBT

Rabu, 18 Juli 2012

mengingat ibu

aku jadi ingat Ibu.

terima kasih sudah berjuang, Ibu.

aku tau, Engkau digempur pertanyaan oleh orang-orang itu.

tentang kuliahku, kehidupanku di jogja, pasangan hidupku. semua.

aku tau Engkau malu.

aku pun tau, kau berusaha dengan sangat keras di balik itu.

ibu,

maafkan aku karena bersikap tidak adil padamu.

dengan komentarku, dengan letupan emosiku.

ibu,

terima kasih atas semua upayamu.

terima kasih sudah berusaha memahamiku.

terima kasih sudah membiarkan aku mengetahui isi hatimu...



-ema

Waki Sakit :(((

Sedih sekali malam ini. Pulang ke kos tadi, kutengok Waki dan Daku. Daku menyambut sumringah, lalu makan. Waki diam saja. Aku tahu ada yang tak beres, tapi belum tahu mengapa. Beberapa menit kubelai, baru kusadari kakinya "belok" ke arah yang salah. Ternyata kukunya terjepit di alas kandang! Waki berusaha lari, tapi itu memperparah posisi kakinya. Aku mati2an berusaha melepasnya. Lima menitan aku berusaha, akhirnya lepas. Tapi kakinya sudah berdarah2. Satu jari kakinya bengkok ke atas. Sepertinya tulangnya lepas dari tempatnya. Sedih. Sedih sekali. Sekarang dia tidak bisa berjalan. Duduk terpekur di sisi kasurku. Maaf ya, Waki... Besok kita segera ke dokter Uma...

Stay strong, Waki... We love you so much.

-ema

Sabtu, 14 Juli 2012

Sahabat Jelajah Baru!

Saya punya tiga sepatu. Satu diberi bapak waktu SMA. Satu diberi bapak dua tahun lalu. Satu lagi saya beli sendiri tiga tahun lalu.

Dua sepatu yang diberi bapak hampir tak pernah saya pakai. Bukan karena jelek atau tak nyaman di kaki. Hanya tidak sreg saja di hati saya. Oke, katakanlah saya cerewet, tapi saya memang mengutamakan rasa dalam memilih sepatu. Saya tak butuh merk, ketenaran, atau kebaruannya di dunia mode. Saya butuh sepatu yang nyaman di kaki saya, mata saya dan hati saya. Saya butuh sepatu yang mampu menggambarkan diri saya, entah bagaimana caranya. Sepatu yang membuat saya bangga dan senang saat menggunakannya.

Untuk menemukannya, saya butuh waktu cukup lama. Sepatu putih yang menemani saya tiga tahun ini, adalah hasil 3 bulan keluar masuk toko. Saya saaaaangat menyukainya. Saya gunakan tiap hari, sepanjang hari. Kerja, kuliah, main, pelatihan, ia menemani saya selalu. Kata orang, sih, sadis. Haha. Saya salut pada pilihan hati saya itu. Ia tetap empuk hingga sekarang. Awet sekali. Sol bagian bawahnya sudah mulai lepas, memang, tapi tidak sulit untuk diperbaiki. Namun ia bau. Mungkin karena benar-benar terlalu sering saya pakai. :((

Saya tetap menyukai si Putih dan menyayanginya. Tapi saya juga sadar kalau saya harus mencari teman untuknya, agar ia tak bekerja sendiri dan punya kesempatan istirahat. Enam bulan lalu saya mulai keluar masuk toko, melihat dan mencoba berpasang-pasang sepatu. Banyak yang bgus, tentu saja, tapi belum sreg di hati.

Hari ini, saya menjelajah lagi. Tidak bersama si Putih, saya menjemurnya agar tetap kering dan sehat. Sebelum berangkat hunting, saya pamit si Putih. Minta doa, biar bisa dapat teman yang cocok buat dia. Hahahaha...


Ehhh, doanya manjur, lho. Setelah satu jam lebih berkeliling, saya menemukan si coklat ini. Saya jatuh cinta. Pas sekali! Cocok. Hanya itu yang ada di hati. Akhirnyaa.... hahaha...

Begitulah. Sekarang saya punya sahabat jelajah baru. :))))))


Dududuuu...

-ema

Kencan

Heii! Lama nian aku tak bertemu dengannya! Akhirnya, hari ini kami berjumpa lagi. Tetap baik, kabarnya. Makin asik saja.

Iya, iya, aku baru bertemu dia. Dia yang bernama kencan itu. Aaa... Ada tiga minggu lebih lah kami tak bercengkerama. Terlalu sibuk saya dan kekasih ini.

Sesering-seringnya bersama, tak berarti kencan selalu ada. Aku di sini, kekasih di situ, dengan laptop atau buku masing2. Ada obrolan2 tentang Waki, Daku, atau Kouda. Ada komentar tentang berita di tivi, atau artikel2 yang sempat terbaca. Ada bahasan tentang rencana dan mimpi. Ada perjalanan pagi menuju pasar. Tapi rasanya kencan tidak ada di sana.

Kemarin kurencanakan bertemu kencan. Kusiapkan semua baik-baik (ah, sesungguhnya aku hanya mengosongkan jadwal kerja dan kegiatan saja). dan...taraaaaaa..... kami pun bertemu kencan. Berkencan. jalan2 berdua ke malioboro. Keluar masuk toko sambil tertawa-tawa. Menyinyiri harga baju yang tak masuk akal. Menangisi syal keren yang seharga SPP satu semester. Lari-lari di trotoar. Senda gurau di lampu merah. Makan bakso. Berebut pangsit. Lalu pingsan di ranjang! :D

Ah, senangnya. Ibarat baterai henpon, pebuh lagi isinya!

Terima kasih, sayang! :*

-ema

Minggu, 01 Juli 2012

Did you really say that, Mom?

"Ma, si xxx sekarang tinggal di jogja ya?"




Saya diam. Lama.




"Ya sudah kalau kamu tidak mau jawab. Tapi sepertinya perasaan ibu benar."



"Nduk, setelah kamu kuliah, kamu boleh kok tinggal di jogja. Kamu mau kerja di sana, mau sekolah lagi, mau apa saja, terserah! Nggak kembali ke Malang juga terserah."




"Ibu dan bapak ini cuma pengen kamu selesaikan kuliah segera. Malu ditanya-tanya orang tentang kuliahmu terus!"




"Pokoknya, selesaikan kuliahmu dalam satu tahun! Titik. Tahun depan, undang ibu dan bapak untuk menghadiri wisudamu. Setelah itu, terserah kamu mau apa."




Ibu berdiri, pergi. Di pintu kamar ia berhenti.


"Kamu itu kalau nulis di facebook hati2. Kamu nggak mau ke gereja lagi juga terserah kamu, tapi kamu harus ingat kalau apa yang kamu tulis di facebook itu bisa dibaca banyak orang."




***

Piala. Juara. Penghargaan. Piagam.

Folder dengan foto-foto itu. Masih lengkap. Orang tua berdiri di sisi. Tersenyum bangga.

Saya persembahkan semua untuk mereka. Kebanggaan, harga diri, prestasi, semua. Saya gadaikan waktu saya untuk mereka, hobi saya, pilihan saya. Belasan tahun lamanya.


***

Ibu, Bapak, apakah aku semenjijikkan itu? Atau aku terlalu tinggi menaikkan harga diri kalian dulu?


***
Diberi kemerdekaan?

Intonasi itu, ekspresi wajah itu, seertinya lebih cocok disebut membuang.


-ema