twitter
    Celebrating the T in LGBT

Kamis, 21 Januari 2010

Peace Generation: Serve as You Are

Semalam teman saya, anggota Peace generation juga, bercerita.

Seseorang bertanya padanya, apa sih yang selama ini Peace gen lakukan? Meski membawa jargon perdamaian, sepertinya tidak banyak yang Peace Gen lakukan bagi orang lain. Ia mengambil acara Munir Memorial Lecture dan Pekan HAM sebagai contoh. Apa iya pesan perdamaian yang dibawa Peace Generation itu nyampe? Jika melihat Panggung Refleksi (yang di depan Gedung Agung), orang hanya akan berpikir: 'oh, ada pentas musik'. That's it. Contoh lain, waktu gempa padang, apa sih yang Peace Gen lakukan? Emang Peace Gen peduli? Di akhir tanya-jawab itu, seseorang ini berkata: 'Nampaknya kalian terlalu sibuk dengan diri kalian sendiri.'




Aku tidak kaget mendengar pertanyaan dan peryataan itu, sebenarnya. =) karena aku pernah mempertanyakan hal yang sama. Mengapa Peace Gen (nampaknya) tidak banyak berbuat untuk masyarakat?


Namun, setelah melalui banyak hal di Peace Gen, aku malah mempertanyakan pertanyaanku tadi.
*halah!

Benarkah Peace Gen terlalu sibuk dengan diri sendiri?



Hmmm.... =)
Yang aku tahu, di Peace Gen ada peneliti2 muda

Yang aku tahu, di Peace Gen ada film maker.

Yang aku tahu, di Peace Gen ada yang jago masak.

Ada juga yang jago musik!

ada yang aktif di organisasi mahasiswa.

Beberapa bergabung dengan organisasi kerohanian.

Yang aku tahu, banyak juga alumni Peace Gen yang bekerja di NGO, sesuai minat masing2.

Hmmm.... lalu ada yang jago desain!

O iya, ada yang jago nulis dan hobi banget nulis.

Ada yang prestasi akademisnya gila-gilaan.

Di Peace Gen juga ada beberapa fotografer handal lho!

Ada pecinta lingkungan juga. Sebagian suka mendaki gunung, sebagian lagi menggunakan sepeda ke mana-mana.

Manajer Band juga ada!

Calon-calon guru pun ada.

Kayaknya masih banyak juga yang belum kusebut. =D


Itulah Peace Gen.

Kalo aku.... Aku hobi menulis. Aku juga bergabung di salah satu organisasi besar di Indonesia. Aku ikut beberapa jaringan. Aku bekerja di sana-sini. Aku juga mengikuti berbagai kegiatan, dan bertemu dengan baaaaanyak orang!

Di setiap tempat itu, aku membawa semangat Peace Generation. Aku menolak masuk dalam lingkaran kekerasan dan intimidasi di salah satu 'tempat'ku itu, dengan harapan bisa memutusnya juga. Aku berusaha menumbuhkan budaya dialog di setiap tempatku. Mengahadapi masalah, aku (sekarang) jadi makin sabar dan bisa mengendalikan emosi. Aku menuntut diriku untuk banyak mendengar meski sulit (dan itu sungguh membantukui menumbuhkan dialog). Aku menceritakan ide-ide perdamaian Peace Generation pada kawan-kawanku, dan mendapat banyak dukungan untuk mewujudkannya, di tempatku masing-masing.


***

Aku bergabung bersama Peace Gen, aku berdinamika bersama, aku berkonflik, aku menangis, aku belajar, aku mendapat semangat. Semangat yang mulai menular pada orang di sekitarku.


Dengan caranya dan tempatnya sendiri, teman-temanku di Peace Generation pun begitu.





Peace Generation hanya memiliki caranya sendiri.

Layaknya manusia, pilihan Peace Gen belum tentu memuaskan semua pihak.
=) Semua masukan akan memacu semangat Peace Gen. Yang jelas, Peace Gen tidak takut menjadi diri sendiri.


Buat semua PeaceGeners:

Serve as You are, Guys...


=)

::che::

Jumat, 15 Januari 2010

Palestina=Muslimin???

Lama-lama saya lelah baca tulisan ini:

Penghinaan (penyerangan, penzaliman, blablabla) kaum zionis terhadap kaum muslimin.


Kenapa sih tulisan orang Indonesia mengenai konflik Israel-Palestina hampir selalu mengandung kata-kata itu? Heran deh. Parahnya lagi, kenapa banyak yang mengamini begitu saja? Lalu ikut berteriak-teriak (katanya) demi membela agama. Astagaa....


Coba, ya, baca! Cari buku, cari tulisan-tulisan atau sumber yang bisa dipercaya tentang konflik itu. Cari! Baca!


Tidak semua warga Palestina adalah Muslim! Ada juga yang bukan. Misalnya Kristen. Lalu, apa iya semua orang Israel itu Yahudi? Apalagi Zionis! Bedain dong....

Baca lagi!

Bahkan Perdana Menteri dan Presiden Palestina pun menghargai yang beragama lain! Natal 2009, mereka ikut ibadah Natal di sebuat Gereja di Palestina.


Mudah sekali isu macam itu dibelokkan di Indonesia, jadi isu agama. Kenapa sih banyak yang percaya?
mungkin ini tanda kalau Bangsa kita kurang ilmu, kurang pengetahuan, kurang baca, kurang buka kuping.


Heran.
Yang di sana gak ribut soal agama kok di sini rame.


(emosi, 15 Januari 2010)
Che

::che::

Senin, 04 Januari 2010

Jagal!

Ada bayi-bayi rumput digantung. Di pohon yang mengering dengan nyala merah. Mati.

Orang-orang itu muncul dan berteriak-teriak. Layaknya kesetanan. Ada parang di tangan mereka. Tiap bayi yang tergeletak dijambak rambutnya. Mereka angkat tinggi. Mereka tebas kepalanya.

Saat itu, tiap ibu akan mengutuki hidupnya. Sebab telah melahirkan anak hanya untuk ditebas. Demi keamanan penguasa. Tiap ibu kehilangan akalnya. Menggendong mayat-mayat kecil tak berkepala. Ibu tertawa, Karena tak punya lagi air mata. Mereka kecupi kepala-kepala di tanah. Disambungnya jari-jari yang putus. Mereka tatap mata-mata kosong itu, mereka ajak bicara.




Anak di sebelahku menangis ketakutan meraih ibunya. Seram, katanya.


Beruntunglah, Nak. Di usia belia kamu telah melihat nyata.


Pembunuhan bayi-bayi di masa Herodes itu, bagi aku yang berusia 10 tahun, hanya terdengar seperti angin. Cerita lalu.


Rasakan kengerian ini, Nak. Kenanglah. Semoga menjadi penjaga nuranimu.





22.46
2 Jan 2010
Stasi 8, jalan salib natal
Humanity of Mary

::che::

Keperempuanan Maria!

Saya baru melihat patung terindah.




***
Jalan Nalib Natal.
Mulanya saya melengos saat membaca bagian akhir susunan acara. Pemberkatan patung Maria. Ah, paling patungnya gitu-gitu aja. Lokasi acara saat itu sangat gelap. Lampu hanya dinyalakan untuk keperluan pertunjukan. Patung Maria itu sendiri sengaja disetting untuk tidak terlihat hingga saatnya tiba.


Di akhir acara, saya duduk ngelesot di belakang kerumunan. Saya malas melihat patungnya. Saat menguap, tak sengaja mata saya menatap layar LCD. Saya melongo. Patung itu,
jauh dari bayangan saya...




Itu bukan patung maria yang kurus-berkerudung.
Bukan Maria yang menatap malu-malu ke bawah, atau kadang melirik ke depan, dengan rosario di tangan.
Bukan juga Maria yang menggendong bayi Yesus.
Atau Maria yang sedang bersama Yusuf.








Maria ini,


sendiri.
Ia tetap berkudung.
Tapi tidak kurus kering.
Ia...
perempuan...




Perutnya besar...
Dadanya sangat penuh,
bentuknya tak disembunyikan seperti patung lainnya.
Badannya pun lebih berisi, tidak kurus kering.


Tangannya,,,


tangannya sedang mengelus perutnya.
Ia sedang hamil, rupanya!
Matanya bukan mata malu-malu.
Mata tajam dan penuh kebanggaan.
Mata itu sedang menatap perutnya, dengan senyum di bibirnya!


Oh! apakah yang sedang ia rasakan?
Apakah ia sedang menikmati tendangan bayinya?
Atau sedang menikmati kebersamaan mereka?
jangan-jangan ia sedang mengagumi tubuhnya yang indah?


Patung ini luar biasa.


Maria ini, bukan Maria yang terpaksa mengikuti kemauan publik.


Maria ini, bukan maria yang dituntut untuk tampil lemah lembut dan malu-malu.


Atau yang harus menutup tubuhnya, berkahnya, dengan berlapis-lapis kain.
Bukan pula Maria yang harus memamerkan anaknya.
Ia juga tak sibuk berpose dengan tangan diangkat, atau tampak berdoa dengan rosario, atau berpose bersama Yusuf sebagai keluarga Nazareth yang saleh.






maria ini adalah Maria.
maria yang memiliki,


menikmati dirinya sendiri.


yang sedang tidak disibukkan oleh urusan artifisial.


Maria ini adalah maria yang otonom.




Maria ini sangat menikmati keperempuanannya...






maria,


Semoga maria-mu hadir di mana-mana.




malam ini aku mensyukuri keperempuananmu,
nama kita,
keperempuanan kita.




2 januari 2010,
10.34


::che::

"orang biasa"?!


01 Desember 2009 jam 18:46




MENDIDIK TERNYATA ADALAH TINDAKAN MENCINTAI.. MENCINTAI ADALAH MEMBEBASKAN ORANG UNTUK MENJADI DIRINYA SENDIRI!


jika memang benar begitu, mengapa perlu ada frasa "orang biasa ( tidak suskses adalah kata kasarnya)"?


sukses-tidak sukses, diukur berdasarkan apa? apakah menjadi guru itu tidak sukses? apakah menjadi tukang becak, sopir, atau PNS berpangkat rendah itu tidak sukses? apakah sukses harus berarti menjadi pengacara terkenal, pengusaha kaya, berlimpah harta?



saya rasa, arti dari menjadi diri sendiri adalah bangga dan bertanggung jawab atas diri sendiri, atas setiap pilihan, dan memberikan yang terbaik sesuai yang kita mampu.


Bagi kakak-kakak alumni yang disebut-sebut sebagai "orang biasa", aaya tetap bangga pada kalian, apapun kata orang. tetaplah menjadi diri sendiri, dan berikan yang terbaik. Saya percaya Tuhan tidak menciptakan orang biasa.


Saya pun akan melakukan yang terbaik. tidak dengan menjadi apa yang orang lain inginkan, tapi menjadi diri sendiri.



Salam hormat,

Ema
dempo 07


*nanggepi artikel di milis alumni dempo. Biar lebih jelas, buka artikelnya di sana ya...
::che::

Rest if You must, but don't Quit.


13 Desember 2009 jam 8:29


Tak ada manusia yang terlahir sempurna.
Jangan kau sesali apa yang telah terjadi.
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat.
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi...


Syukuri apa yang ada... Hidup adalah anugrah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik...

Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya, bagi hambanya yang sabar dan tak pernah putus asa...


Jangan menyerah..jangan menyerah...

Jangan menyerah...

::che::

Havenu Syalom..

Kubawa damai bagimu..
Kubawa damai bagimu.. Kubawa damai bagimu.. Kubawa damai, damai, damai bagimu... (havenu syalom)



hampir tiap minggu saya menyanyikannya..


Semoga saya bs lbh memaknainya, meresapkan dlm hati saya, menunjukkan dlm tindakan saya..


Melihat gajah di pelupuk mata, menyiapkan ruang untuk mendengar... Menumbuhkan empati... Menoleh..

=)
bantu saya, teman2... Gak mudah merubah kebiasaan & mengurangi ego... Jangan ragu menegur saya. Hehehe.. ^^


terima kasih sudah menemani saya selalu. ..
:)

::che::

To listen and to be listened =)


>

 28 November 2009 jam 22:43   


waow, waow!
Ini hari yg luar biasa! Pengalaman unik datang bertubi-tubi! Hahaha... Dari keluar-masuk kos 4x gara2 ada aja barang ketinggalan, salah kostum, dikotbahi org, jalan2 bareng dJ, sampe rumpi2 soal kontrol sosial. Hahahaa.....

Sekarang saya sih lg senyum2, mengingat2 obrolan dgn teman td siang. Bukan isi obrolannya yg bikin senyum. Tapi prosesnya.

Beberapa minggu ini kami gak pernah ngobrol. Hanya saling komentar di fesbuk. Aneh ya. Padahal saya sadar, di fesbuk, kesempatan salah paham itu besar. Hanya ada kata dan tanda baca sih! Tanpa nada-ekspresi-intonasi.. Trus seringkali orang yg baca gak paham konteks tulisanna (status, komentar, catatan, dll).


*Tau dari mana, Ma?
*ya tau..pengalaman pribadi..suka sok tau ngartikan tulisan orang. Hahahahahaa...
*oo.. Gak genah iki..
*wakakakakaa...
[gak penting]


ya, jadi itu tadi.. salah pahamnya terjadi pada saya. Saya jadi mikir macem2 soal tulisan2na, trus mulai berprasangka gitu deh. Untung UGD otak saya sigap. Saya dapat pertolongan pertama dan segera sadar. Bahwa saya menghakimi tanpa sebab jelas. Saya menilai buruk secara sepihak. Mateng wes..


Maka, saya putuskan ngobrol berdua dengannya. Personal saja! Wong 'problem'na personal. Hahahahahaa... -Apa sih..-



Pertamanya tujuan saya satu: pengen denger penjelasanna atas bbrp hal.

Tapi dipikir-pikir, kayaknya ngobrol itu memberi ruang lebih dari 'untuk mendengarkan' saja deh. Pas ngobrol saya kan pasti ngoceh juga. Ttg perasaan saya, maksud saya, bla bla bla. Artinya, saya jg memberinya kesempatan utk mendengarkan saya!


Ternyata benar. Kami saling mendengarkan. Ternyata lagi, rasa jengkel saya padanya ilang. Ternyata dan ternyata lagi, saya jadi paham apa maksudnya. Saya jadi lbh mengenalnya. Saya bisa mengevaluasi diri juga. Begitu pula dia! Timbal balik!

=) menyenangkan.



Saya rasa, pemimpin2 dunia yg suka bikin perang jg harus ada waktu rumpi2 deh, biar gak perang 
lagi. Anak2 geng sekolah yg hobi tawuran itu juga. Kita juga. Apalagi jika kita sudah jatuh pada asumsi & dugaan2. Tak ada salahnya memulai obrolan. Starting to hear and to be heard.


*jadi kangen PeaceGen..

::che::

Ada Pembunuhan

Betapa seringnya kita bersembunyi di belakang banyak alasan yang tampak luar biasa untuk satu hal:

melindungi diri sendiri.

naluri manusia, huh?

melindungi diri sendiri dan membunuh orang lain.



::che::

Tuhan Bikin Film


15 November 2009 jam 16:55



Wow! Kayaknya semua orang lagi ngotot pengen nonton 2012 nih! Hehee... Saya sih blom nonton. nunggu DVDnya ajah.

Katanya sih film ini soal kiamat tahun 2012 yang -katanya juga- diramalkan suku Maya itu. Hohohoo...


Trus hari ini ada teman saya yang nulis tentang kiamat juga. Tapi agak beda dengan tulisan lain yang mbahas benar-tidaknya ramalan itu, ini semacam renungan kitab suci gitu. Menariknya, ada yang komentar "Aq tak percaya 2012...itu manusia yang buat..bukan TUHAN.. wkwkwkwk"


Sebenernya saya gak tahu, yang dia maksud dengan 2012 itu film ato ramalannya. ^^ menurut saya sih dia gak percaya film yang didasarkan pada ramalan itu. Yang jelas komentarnya bikin saya senyum2 trus nulis catatan ini. Hohohohoo...

Ceritanya, saya ini orang yang percaya pada yang kuasa lain yang melebihi manusia, melebihi apapun. Bukan sembarang kuasa, tapi kuasa baik yang terus hidup selama manusia masih memiliki harapan dan kehendak baik. Saya menyebut kuasa itu Tuhan. Saya percaya pada Tuhan. =)



Menurut saya lagi, Tuhan akan menemani dan mendorong manusia melakukan kebaikan. Dengan banyak cara dong! Yang sudah jelas adalah melalui manusia itu sendiri. Simpelnya, Tuhan berkarya melalui manusia. gitu lah! [Hehehe... mbulet ya? ^^]

Nah, balik ke film. Film kan media yang efektif untuk mempengaruhi orang. Jadi, bukan tidak mungkin Si Tuhan melihat celah itu dan ingin membuat film juga. ya lewat manusia dong... serem juga klo tiba-tiba ada film tapi 'gak ada yang buat'. wakakakakakakakkk....

Kenapa saya bisa ngomong gitu? karena saya telah menonton buaaaanyaak film yang menginspirasi hidup saya, memberi semangat untuk melakukan hal-hal berguna. They are soooooo inspiring!! Contoh aja ya, Freedom Writers. Film itu memberi saya semangat untuk menulis. Menulis itu penting loh! selain untuk ekspresi diri (saya percaya orang bisa mati kalo gak mengekspresikan diri), saya juga bisa berbagi banyak hal dengan orang lain! Film itu juga menyemangati saya untuk berani mengenal orang, atau kelompok, yang tidak saya sukai. Saya tergerak untuk tidak menghakimi orang lain, apalagi sebelum mengenalnya. Believe me, it works on me!! Saya juga jadi makin yakin, mendengar dan bercerita adalah paduan yang indah! Kadang saya merasa tidak beruntung, merasa diri tidak disayang, masalah saya berat, bla-bla-bla. Namun, saat mendengar orang lain, saya sadar...saya bukan satu-satunya yang bersedih dan terluka. Efek positifnya, saya tergerak untuk saling menguatkan dengan sesama...

Itu baru satu film! Freedom Writes!



ambil contoh kedua. kali ini tentang kebiasaan merokok. saya benar-benar berniat dan berusaha untuk berhenti merokok karena -antara lain- dua film: Wall-E dan Sex and The City. Mengapa Wall-E? Karena saya ini WTS, Wanita Tak tahan Sumuk, yang tidak ingin bumi makin panas -apalagi sepanas film Wall E- karena rokok saya. Lalu mengapa sex and the city? Karena di season 6 ada cerita tentang mr.Big yang operasi jantung, dan saya melihat betapa khawatir dan tersiksanya Carrie, pasangan mr.Big, saat menunggu hasil operasi itu... Yeah, saya tahu saya melow. Saya menangis di adegan itu. Saya tak bisa membayangkan betapa sedihnya orang-orang yang mencintai saya dan saya cintai jika saya kena penyakit, apalagi MATI, gara2 rokok. Ogah!!!! Maka, jadilah saya berusaha mati-matian berhenti merokok. Hahahahahahaaa....



Begitulah... Film-film itu telah mendorong saya menuju arah yang lebih baik, setidaknya menurut saya. Maka saya percaya, di sana Tuhan bekerja. Ia menegur, mengingatkan, mengajak. Tuhan ikut membuat film-film itu. Ya lewat Manusia lah... Hehehehee...



"Trus apa hubungannya dengan komentar orang itu, Ma?"



Hubungannya ya...lucu aja klo ada yang bilang (film) itu manusia yang buat, bukan Tuhan. Karena seperti kujelaskan tadi, dalam tiap hal yang mengingatkan dan mendorong manusia pada kebaikan dan harapan, Tuhan bekerja.



sekian dan terima kasih.

hehehehehehee




NB: soal film 2012, menurut Kompas hari ini film itu emang rada gak logis. Eniwei, sepertinya kita tetap bisa melihat hal lain. Bahwa alam bereaksi pada tiap tindakan kita. Ini sok tau aja sih. Lha wong saya belom nonton... hwakakakakakakakk



::che::

Sabtu, 02 Januari 2010

Kereta Api




13 November 2009 jam 10:16

Saya lagi di kereta. =) senangnya! Dah lama saya gak naik kereta. Mmm... Terakhir bulan Mei agaknya. Lupa. Kereta eksekutif. Dibayari, pula! Hakhakhak...

Kali ini saya naik Sri Tanjung, kereta ekonomi jogja-surabaya-banyuwangi. Wow! Ini adalah kereta ekonomi terbaik yg pernah saya naiki! Sepi, bersih, WCna bagus!! Ada aerna, pula! Woohooo... ^^ bueda bgt dgn Progo-Gaya Baru-Matarmaja-dll. Biasanya saya ndelosor di lorong kereta, atau umpel-umpelan di depan WC yg pesing banget. Kalaupun dapat kursi, saya capek angkat kaki. Karena org rela berbaring di kolng kursi demi mndapat tempat! Biasanya lagi, saya terpaksa ngempet pipis atau beol krn WCnya gak layak blas! Beda bgt dgn hari ini. Saya bisa beol di kereta dgn lega! Hahahahahaaa..... =D plung-plung-plung!

yang tidak berbeda antara Sri Tanjung dan kereta2 bla-bla-bla itu adalah: 1) murah! Bayangkan, jogja-surabaya cuma 19.500 + dana PMI 500. MurahE.... ^^
2) pedagangnya di mana2!! Hahaha... Dugaan saya, jangan2 jumlah pedagang di kereta ini lebih banyak dr penumpangnya. Wkwkwkwk...

Eniwei, selalu ada pengalaman menarik di setiap kereta.. =)

di kereta yg sesak, saya menyaksikan penerapan hukum rimba. Yang kuat yang menang. Berebut kursi, berebut koran, berebut ruang utk duduk. Kadang perebutan itu penuh kemarahan.. Yah, demi mencari kerja, atau demi bertemu keluarga. Menjelang Idul Fitri, kondisi jd makin parah. Kereta jd seperti obor yg hampir mati. Saya melihat banyak wajah lelah di sana. Wajah pasrah pd nasib. Tapi saya percaya, 'pulang kampung' adalah bukti bahwa harapan masih ada. Berkumpul bersama keluarga akan memberi eneri baru, kan? Maka obor itu masih menyala..

Di kereta ekonomi yg sepi & bersih macam ini, saya belajar hal lain. Saya melihat pedagang2 yang riang dan selalu bersyukur karena dagangannya laku. Mereka ramah, dan tak segan berbagi syukur dgn saya. Lewat sapaan, senyuman, obrolan2 ringan.. =) mata mereka seolah berkata, hidup memang sulit, tapi tak ada alasan untuk menyerah, mbak..

=) hahaha..
Menyenangkan. Menyenangkan.. Kereta api bukan lagi benda mati bagi saya. Ia adalah sahabat baik bagi tiap orang yang menggeluti hidup di dalamnya. Kereta api menemani, mengantar, dan mendukung. =)
maka, Semangat hidup di dalamnya pun tak pernah mati.

=)
kereta api..

Biar saya nikmati lagi perjalanan ini. Saya tak sabar lagi menunggu kisah berikutnya!

Sri Tanjung,
10.10

::che::

Apa Kamu Peace Generation?


10 Oktober 2009 jam 11:29 

Suatu malam, setelah berhari-hari tidak pulang ke kos karena sibuk beraktivitas, saya melongo. Tiba-tiba salah satu teman kos pamit. Ia hendak pulang ke kampung halamannya. Ternyata ia telah diwisuda empat hari sebelumnya, dan saya tidak tahu!


Kejadian itu menampar saya. Saya, yang merasa diri cukup memahami permasalahan hukum dan hak asasi manusia dan bercita-cita menjadi pembela rakyat kecil, ternyata tidak tahu keadaan rumah tinggal saya sendiri. Saya, yang suka ikut aksi di sana-sini, membahas isu ini-itu, dan membuat kegiatan begini-begitu, bahkan saat itu sedang koar-koar tentang perdamaian (di Peace Generation) dan penghargaan pada perempuan pekerja seks (di Red District Project), nyatanya tidak menghadiri wisuda teman satu rumah dan tidak turut bergembira bersamanya karena hal tolol: tidak tahu.

Ironis.

Saya malu.

***

Lain waktu, saya melongo lagi, gara-gara celetukan abang tukang sate langganan saya.

“Makasih ya Mbak, mau ngajak saya ngobrol. Biasanya anak kos cuma beli, nggak pernah ngajak ngomong. Kesannya tukang sate tuh hina banget…”

Plaaak! Saya tertampar lagi.

Ternyata banyak juga teman-teman mahasiswa yang acuh, kalau tak boleh disebut angkuh, pada sekitarnya. Jual mahal. Sibuk belajar dan berkegiatan hingga lupa menoleh dan menyapa. Sibuk SMS-an atau fesbukan hingga lupa menatap mata orang di depannya, berkata “apa kabar”, atau tersenyum dan berterima kasih. Bahkan pada orang yang telah menyiapkan makanan bagi mereka. Parahnya, status saya dan mereka sama, mahasiswa.

Kata orang, mahasiswa itu agen perubahan. Yang diharapkan bisa mengaplikasikan ilmunya untuk kesejahteraan masyarakat. Yang akan membawa bangsa dan negara menuju arah yang lebih baik. Karena itu, seharusnya mahasiswa mengenal sekitarnya. Mahasiswa mestinya tahu siapa orang-orang yang ada di sekeliling mereka, bagaimana keadaannya, dan mahasiswa mesti tahu apa yang bisa ia lakukan bagi orang-orang itu. Tapi, kalau mahasiswanya seperti saya semua, preett!!! Yang ada nanti malah bangsa yang acuh, angkuh, dan kebanyakan omong.


Saya ini ‘anggota komunitas Peace Generation’. Komunitas yang tak henti-henti berusaha menyebar dan menanamkan nilai-nilai perdamaian di jiwa anak muda, dimulai dengan menumbuhkan kepedulian dan mengolah kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar. Lalu saya berpikir lagi, apa iya saya masih layak menyandang titel “anggota Peace Generation” ketika ternyata saya acuh pada sekitar saya? Bahkan pada orang-orang terdekat! Masih pantaskah saya menyatakan status itu dengan bangga jika saya angkuh dan narsis, mengikuti banyak kegiatan hanya untuk nama besar saya, supaya ada yang bisa dipamerkan dan disombongkan?

Sesungguhnya, Peace Generation bukan hanya sebuah nama. Bukan juga sekedar event organizer. Peace Generation adalah sebuah semangat. Spirit. Roh. Semangat yang muncul karena kegelisahan terhadap kekerasan, terhadap perang, terhadap ketimpangan dan ketidakmanusiawian. Semangat itu ada karena keyakinan bahwa tiap manusia diciptakan berharga dan unik, hingga tak ada yang boleh diperlakukan buruk. Semangat itu dihembuskan karena percaya bahwa kebaikan akan selalu tumbuh, tidak bisa mati. Peace Generation adalah semangat untuk peduli, bukan acuh. Semangat untuk terus berbuat baik, dengan tulus, pada semua, tanpa membeda-bedakan. Semangat untuk memastikan bahwa setiap orang diperlakukan sebagai manusia. Hanya orang yang memiliki semangat itulah yang layak disebut Peace Generation sesungguhnya.

Pada titik ini, jujur saya akui bahwa saya sangat tidak nyaman dengan kondisi saya saat ini yang begitu acuh dan angkuh. Saya ingin menyapa tetangga saya. Saya ingin menimbun sedikit demi sedikit lubang antara saya dan orang-orang di sekitar saya. Saya tidak ingin ilmu dan pengetahuan saya mati sebagai omong kosong. Saya amat merindukan semangat-semangat itu. Saya ingin menjadi Peace Generation yang sesungguhnya.

Lalu, Apakah kamu Peace Generation?


*We’ve been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street to meet a new neighbor. (Paradox of Our Time, Jeff Dickson)

::che::